Indonesia Tuntut Keadilan, BWF Tak Bernyali Ungkap Kasus All England

Ridho Permana
·Bacaan 2 menit

VIVA – 18 hari pasca didepaknya atlet bulutangkis Indonesia, Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) masih tak bernyali ungkap kasus All England secara utuh.

Persoalan ketidakadilan yang terjadi di Utilita Arena Birmingham tak sesederhana itu. Kerugian demi kerugian dialami Indonesia, terutama soal harga diri.

BWF memang telah mengirimkan surat kepada Indonesia, namun penjelasan itu tak ada satupun tuntutan Indonesia yang dipenuhi.

Tentunya, ini akan menjadi preseden buruk untuk BWF. Kurangnya kompetensi dari federasi bulutangkis tertinggi di dunia itu bakal menjadi persoalan dikemudian hari.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) dengan tegas meminta kepada BWF, bahwa Indonesia menuntut penjelasan utuh atas insiden di All england.

Kejanggalan yang paling besar, adalah diperbolehkannya tujuh orang yang positif wakil Denmark, Thailand dan India. Dalam waktu 24 jam mereka bisa bermain.

Bukan hanya itu, orang-orang yang berinteraksi dengan mereka yang positif pun dengan leluasa berlaga di All England. Sedangkan Indonesia, berada satu pesawat dengan orang positif COVID-19 diminta isolasi mandiri.

"Harus ada kejelasan. Permintaan maaf itu kami apresiasi, langkah BWF untuk mereka meminta maaf Itu secara formal," ujar Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna beberapa waktu lalu.

"Ada ada masalah substansinya itu harus dijelaskan. Tetap dibutuhkan kejelasan, secara umum di surat itu ada kesalahan dalam penyelenggaraan ini, apa? Agar tak terjadi ke depan. Kami tidak menyangka diperlakukan seperti ini, yang kami sayangkan perlakuan BWF ke Indonesia. Ada 7 positif bisa main, sementara atlet disuruh jalan kaki, dan di lockdown," tegasnya.

Sementara itu, Atlet bulutangkis Indonesia Greysia Polii mendesak BWF ganti rugi. Harusnya sejak awal ultimatum Indonesia didengar agar tak terjadi masalah dikemudian hari.

Greysia mengulas kembali tuntutan Indonesia yang tak diindahkan BWF. Akhirnya ganti rugi merupakan jalan terbaik sebagai salah satu dari tiga tuntutan Indonesia.

"Ada tiga poin, kalau mau fair waktu kita mau tanding satu kita di swab ulang. Dia (BWF) harus bela kita untuk nanyain ke NHS, ini bukan soal satu orang," ujar Greysia baru-baru ini dalam sebuah acara televisi swasta.

"Kedua, mau enggak mau harusnya diisolasi semua dong. ditunda dulu semua pertandingan, diclear dahulu. Kita kan sudah main sama mereka, satu hall," tambah Greysia.

Poin ketiga itu ganti rugi. All England sudah selesai, ada juara dan menurut BWF sukses. Ganti rugi dituntut karena ada yang menggunakan biaya sendiri, juga efek perlakuan tak manusiawi diusir dipaksa mundur lalu disuruh jalan kaki.