Indra Sjafri Minta Doa untuk Melatih Timnas Indonesia

Bola.com, Jakarta - Di tengah polemik antara PSSI dengan Shin Tae-yong, muncul nama Indra Sjafri. Arsitek asal Pesisir Selatan, Sumatera Utara itu disebut-sebut sebagai kandidat kuat pelatih Timnas Indonesia.

PSSI mengancam Shin Tae-yong dengan pemecatan apabila sang pelatih tidak kembali ke Indonesia pada pekan depan. Indra Sjafri pun mulai disiapkan sebagai penerus pelatih asal Korea Selatan itu.

Dalam wawancaranya dengan Hanif dan Rendy Show di YouTube, Indra Sjafri mengumbar isyarat. Pria berusia 57 tahun itu memint doa agar dirinya dapat menjadi pelatih Timnas Indonesia.

Jabatan pelatih Timnas Indonesia akan melengkapi curriculum vitae (CV) Indra Sjafri di level timnas. Sebelumnya, mantan peracik strategi Bali United ini pernah menangani Timnas Indonesia U-17, U-19, dan U-22.

Saat ini, Indra Sjafri menjadi Direktur Teknik PSSI, setelah dicopot dari posisinya sebagai asisten Shin Tae-yong di Timnas Indonesia dan U-19, Februari 2020.

"Saya nyaman di semua tempat. Mau di mana pun. Walaupun saya punya rekam jejak kepelatihan dari Timnas Indonesia U-17, U-18, U-19, dan terakhir U-22. Timnas Indonesia senior yang belum. Doakan saja," kata Indra Sjafri kepada Hanif & Rendy Show di YouTube.

Enak Mana, Menjadi Dirtek atau Pelatih?

Pelatih Timnas Indonesia, Indra Sjafri, merayakan gelar juara Piala AFF U-22 2019 setelah mengalahkan Thailand pada laga final di Stadion National Olympic, Phnom Penh, Selasa (26/2). Indonesia menang 2-1 atas Thailand. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap)

Indra Sjafri mengaku punya pekerjaan melimpah sebagai Dirtek PSSI. Namun, posisi ini tidak membuatnya begitu tertekan seperti saat masih melatih Timnas Indonesia level usia.

"Lebih berat menjadi dirtek namun lebih stres sebagai pelatih timnas. Kalau banyaknya pekerjaan, menjadi dirtek. Kalau lebih stres, menjadi pelatih timnas," imbuh Indra Sjafri.

"Jadi modal itu menjadi modal untuk bisa bekerja sebagai dirtek. Pengalaman blusukan ke daerah, kantong-kantong potensi lalu infrastruktur dan sebagainya. Terakhir bisa mengukur sepak bola Indonesia dibandingkan negara Eropa. Dari ukuran itu, apa yang bisa diperbaiki. Itu modalnya," jelasnya.

Video