Indri, pegulat Jambi haus prestasi meski tak muda lagi

·Bacaan 5 menit

Indri Sukmaningsih, atlet kempo kelahiran Jambi 24 Juli 1990, menyadari bahwa dirinya sudah tidak muda lagi, namun ia bertekad meraih medali emas pada PON Papua yang akan datang.

Ditemui saat berlatih di gedung gulat Jambi, kawasan Stadion Tri Lomba Juang KONI Jambi, Selasa, Indri (31) sapaan akrab dari istri Andi Saputra dan ibu dari Umar (2,6 tahun) itu telihat sangat serius berlatih dengan lawan tandingnya baik atlet putra maupun putri.

Mulai dari berlatih fisik hingga teknik dan taktik selama hampir tiga jam pada pagi hari dan malam di bawah bimbingan pelatih Ardiman dan Widodo, Indri terlihat sangat antusias demi mengejar mimpinya di Papua meraih medali emas PON XX/2021.

Baca juga: 121 atlet shorinji kempo se-Indonesia siap tampil di PON Papua

"Saya menyadari memang pada usia yang tidak muda lagi dengan sudah memiliki seorang putra, namun untuk meraih mimpi itu perlu kerja keras dan saya siap tampil pada PON nanti," kata Indri.

Indri juga memohon doa serta dukungan keluarga, teman dan masyarakat Jambi, agar semua upaya yang telah dilakukannya untuk meraih prestasi dan mimpinya itu bisa tercapai.

Indri yang akan turun pada kelas 76 kilogram gaya bebas putri itu, bertekad bisa meraih medali emas di Papua nanti, meskipun usianya sudah tidak muda lagi dan lawan-lawannya tangguh. Namun ia menyadari bahwa perlu kerja keras dan doa agar Allah mengabulkan doanya.

"Saya akan mempersembahkan emas untuk Jambi," katanya. Medali juga ingin ia persembahkan secara khusus bagi putranya yang bernama Umar berusia dua tahun enam bulan yang akan ditinggalkannya bersama sang suami di Jambi karena harus meraih mimpin di Papua selama dua pekan mendatan.

Indri yang terlahir bukan dari keluarga mampu dan sempurna karena menyandang disabilitas itu, sudah mengeluti olahraga sejak duduk di bangku sekolah dasar.

"Pelatih saya yang namanya Pak Ardiman itu adalah guru saya di SD 174 Kota Jambi, beliaulah yang pertama mengajak saya terjun ke dunia olahraga dicabang atletik dan pada kelas 3 SD sampai kelas enam, setelah itu saya ditarik ke cabang gulat olehnya," paparnya.

Di bawah asuhan Ardiman lah ia pertama kali berlatih gulat bersama dua kawannya Retno dan Era. Namun saat mengikuti kejuaraan nasional kedua temannya meraih medali sedangkan ia tidak.

"Saya lihat si Era berhasil meraih medali dan berhasil juga pertama kali masuk Pemusatan latihan nasional (Pelatnas) di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hati ini ada iri, karena si Era dapat uang insentif dari KONI," katanya. Dari situlah dirinya bertekat menjadi atlet prestasi yang dapat membantu kehidupannya.

Baca juga: Atlet Kempo Sumbar Ari Parmanto penasaran dengan medali emas PON

Pertama kali masuk dan berlatih gulat pada tahun 2002, saat itu dirinya masih berumur sekitar 12 tahun. Berkat diringan dan motivasi dari rekannya agar ia bisa meraih prestasi yang sama, maka pada usia muda Indir mulai meraih prestasi di pentas nasional.

Dirinya juga sudah berkali kali berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk mengharumkan nama Jambi. Mulai dari PON 2004 di Palembang di mana gulat putri baru dipertandingkan dan hanya sebagai cabang eksebisi.

Kemudian pada PON 2008, setelah gulat resmi dipertandingkan, Indri turun pada kelas 55 kilogram dan berhasil meraih medali perak, dilanjutkan pada PON 2012 juga mendapat perak. Sebenarnya ia mendapat medali emas namun karena sesuatu hal dianggap melakukan pelanggaran pada babak final lawan pegulat Papua maka harus rela dapat medali perak lagi.

Pada PON 2016 di Jawa Barat, Indri kembali tampil ikuti PON namun prestasinya hanya bisa mendapatkan perunggu dan pada PON 2021 di Papau nanti dirinya sudah bertekat untuk meraih prestasi puncak yakni medali emas dan dia mohon doa agar berhasil memperolehnya.

Indri yang saat ini bekerja di Satpo PP Kota Jambi itu, mengawali pendidikannya di SDN 174 Kota Jambi yang berhasil diselesaikannya pada 2001, dilanjutkan masuk SMPN 5 Kota Jambi tamat 2004 dan lulus SMA pada 2008, kemudian melanjutkan ke pendidikan tinggi pada 2012 di Porkes Universitas Jambi hingga menjadi sarjana olahraga.

Selama menekuni olahraga gulat Indri sudah beberapa kali cedera, namun hal tersebut tidak melunturkan semangatnya menjadi altet gulat dan siap untuk mengharumkan nama Jambi di tingkat nasional.

"Ada pernah mengalami cedera bahu, dengkul pernah juga terkilir, dan ada jari ini sudah bengkok," kata Indri yang tetap bersemangat itu.

"Tidak ada munafik lah, saya di gulat banyak mendapatkan uang, itu salah satu motivasi saya, karena saya kan bukan dari keluarga yang mampu, kami dari keluarga menengah ke bawah, dulu tiap bulan saya mendapatkan insentif jelas dari KONI dan bahkan apabila mendapatkan medali saat PON banyak mendapatkan bonus dan uang insentif pembinaan," kata Indri.

Baca juga: Kempo Sumbar ingin pertahankan tradisi emas di PON Papua

Indri mengakui setiap berlaga di kejuaraan nasional dan mendapatkan medali emas, setiap bulan pula dirinya mendapatkan uang insentif dari KONI Jambi hingga saat ini sampai bisa kuliah, membiayai orang tua bahkan membayarkan utang orang tuanya. Ia pun mendapat pekerjaan halal karena gulat.

Indri, bungsu dari tiga bersaudara, anak pasangan Erna Rahim dan Nur Santoso itu mengatakan dirinya juga berpesan kepada adik-adik juniornya di cabang gulat untuk terus berlatih terus meningkatkan kemampuannya agar bisa lebih dari dirinya, dapat membanggakan PGSI Jambi, karena di luar daerah Jambi pegulat putrinya maju sangat pesat.

"Saya berharap sekali pegulat Jambi ini tidak stop di saya pegulat putrinya, saya mau ada adik-adik junior saya yang lebih dari saya. Bisa ikut SEA Games seperti lainnya," katanya.

Banyak yang mengira bahwa olahraga gulat hanya dilakukan oleh kaum adam, tetapi saat ini lebih banyak kaum hawa dibandingkan kaum adam yang menekuni olahraga gulat ini di Provinsi Jambi, sehingga harapannya di Jambi akan muncul terus bibit pegulat putri berpretasi lainnya di masa depan.

Pada PON XX di Papua, Indri Sukmaningsih berangkat ke Merauke bersama dengan dua atlet gulat Jambi lainnya yakni Trijaya Kusuma yang akan turun di kelas 125kg dan M Rizki Akbar pada kelas 65kg, untuk meraih prestasi medali.

Baca juga: Aceh andalkan dua atlet putri raih medali emas kempo PON Papua

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel