Industri Berharap 5G Segera Unjuk Gigi

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa negara di dunia telah mengimplementasikan jaringan generasi kelima atau 5G. Sementara Indonesia penerapannya masih menjadi pro dan kontra. Bahkan, lelang pita frekuensi untuk 5G saja baru-baru ini dibatalkan.

Menurut Country Director Qualcomm Indonesia, Shannedy Ong, jaringan 5G sebenarnya bisa memberi keuntungan ekonomi yang sangat besar. "Kita sekarang menuju Indonesia 4.0. Itu hanya bisa kalau ada teknologinya, sehingga Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara di Asia Tenggara," kata dia, dalam diskusi online 'Oppo 5G Academy Vol 1: 5G Talk with Reno5 5G', Kamis, 4 Februari 2021.

Baca: Jaringan 4G Belum Optimal, Jangan Sampai 5G Timbulkan Masalah Sosial

Pada kesempatan yang sama, Public Relations Manager Oppo Indonesia, Aryo Meidianto, mengingatkan jika teknologi akan terus berkembang. Apabila Indonesia tidak mengikutinya, maka akan ketinggalan dari sisi ekosistem. Kemudian, biayanya pun akan jauh lebih mahal karena ekosistem akan selalu bergerak maju.

"Oppo sudah siap 100 persen (implementasi jaringan 5G). Kami juga mendukung pemerintah. Perlu dicatat juga bahwa kami siap melakukan kolaborasi dan membantu pemerintah untuk mengimplementasikan 5G," tuturnya.

Raksasa teknologi asal China ini beberapa pekan lalu juga telah membawa smartphone generasi kelima pertamanya ke Indonesia, Reno5 5G. Penyematan nama 5G, menurut Aryo, sudah mendapat restu dari pemerintah. Akan tetapi jaringannya dikunci sampai Indonesia benar-benar sudah mengadopsi jaringan 5G.

Dari sisi operator telekomunikasi, Deputy CEO Mobility Smartfren, Sukaca Purwokardjono, juga mengaku sudah siap untuk implementasi 5G. Bahkan, klaim Sukaca, Smartfren sudah beberapa kali melakukan uji coba jaringan, di mana hasil kecepatannya lebih dari 10 kali lipat dari jaringan 4G.

"Perkiraan komersial itu ada beberapa faktor. Pertama, ibarat bangun rumah maka lahannya yang harus disiapkan dulu. Kalau jaringan maka lahannya itu spektrum. Dalam hal ini kami sangat berharap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan soal 5G," papar dia.

Jika kebijakan sudah ada, maka operator telekomunikasi seperti Smartfren bisa menggelar jaringan 5G begitu ada frekuensi. Sukaca berharap akhir tahun ini atau awal 2022 jaringan 5G bisa berjalan. "Semakin cepat pemerintah bertindak, semakin cepat juga operator telekomunikasi melakukan pembangunan," tegasnya.