Industri biodiesel lanjutkan rencana penambahan kapasitas produksi

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Ketua Umum Asoasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) MP Tumanggor menyatakan untuk mendukung program B30 yang saat ini menjadi program terbesar di dunia, produsen biodisel telah merencanakan penambahan kapasitas produksi.

"Namun pandemi COVID-19 mengakibatkan rencana penambahan produksi ditunda,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Tumanggor menjelaskan penambahan kapasitas produksi mundur pelaksanaannya hingga 2021 dan 2022 setelah adanya penyesuaian kondisi pandemi COVID-19.

Pada 2020 direncanakan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta kiloliter menjadi mundur ke tahun 2021 sebesar 3,4 juta kiloliter.

Baca juga: Pemda didorong tingkatkan pemanfaatan biodiesel

Menurutnya, kelanjutan program B30 pada 2020 dapat berjalan optimal dengan dukungan ketersediaan pasokan bahan baku dan kelancaran kegiatan transportasi logistik.

Data APROBI menunjukkan produksi dari Januari sampai Oktober 2020 sebesar 7,197 juta kiloliter. Dari jumlah ini penyaluran domestik sebesar 7,076 juta kiloliter dan ekspor sebesar 16.331 kiloliter.

Sementara itu Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan menyebutkan implementasi B30 merupakan upaya memenuhi komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26 persen dari BAU (Business As Usual) pada 2020 dan pengurangan emisi 29 persen pada 2030.

“Kontribusi B30 berdampak positif bagi pengurangan emisi gas rumah kaca," katanya melalui keterangan tertulis.

Baca juga: BPDPKS: Pengembangan biodiesel bernilai strategis bagi ekonomi

Dari aspek ekonomi, kata Paulus, tenaga kerja sektor hulu yang terserap sebanyak 1,2 juta orang, penyerapan biodisel di dalam negeri menjaga keseimbangan suplai dan permintaan kelapa sawit.

Selain itu harga TBS petani juga stabil mengikuti pergerakan harga CPO, sedangkan program hilirisasi sawit juga bergerak untuk meningkatkan nilai tambah.

Menurut Paulus, implementasi biodisel mampu menggerakkan hilirisasi sawit sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo.

Paulus menyebutkan pencampuran biodisel dengan solar mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Impor solar dapat terus berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelum B30 berjalan.

Baca juga: Greenpeace: Emisi produksi biodiesel lebih besar dibandingkan BBM

Dampak positifnya adalah defisit neraca dagang dapat berkurang. Implementasi B30 membuat Indonesia menghemat devisa dari impor migas hingga 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp70 triliun (kurs Rp 14.000)

Saat ini Kementerian ESDM RI berencana untuk meningkatkan lagi pencampuran kadar biodisel menjadi B40. Kegiatan penelitian uji coba seperti uji kinerja dan uji jalan yang akan di laksanakan pada 2021.

Agar program bodisel 2021 semakin lancar dan tidak ada hambatan di permulaan tahun, kata Paulus, maka produsen mengharapkan dukungan dari semua pihak termasuk percepatan keluarnya peraturan.

Baca juga: Serapan biodiesel semester I capai 4,36 juta kl