Industri Fashion Ikut Janjikan Bantu Upaya Dunia Tekan Emisi Karbon di COP26

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Industri fashion ternyata memiliki peran cukup penting dalam mengurangi karbon dan mencegah perubahan iklim. Hal ini disebabkan, Bank Dunia pada 2019 pernah merilis laporan tentang industri fashion tersebut menyumbang 10 persen emisi karbon setiap tahunnya. Angka itu lebih tinggi dibanding emisi dari semua maskapai internasional maupun kapan maritim.

Berdasarkan perhitungan, bahkan ada sekitar 20 persen air limbah di dunia juga berasal dari industri fashion. Dengan demikian, pada ajang iklim COP26 Glasglow, industri fashion ikut berjanji dan kembali komitmen dalam menekan emisi karbon melalui Fashion Industry Charter for Climate Action.

TERKAIT: Demi Bumi, Kurangi 50 Persen Emisi Karbon di Tahun 2030

TERKAIT: Plastic Neutral, Solusi Kelola Sampah Plastik untuk Mengurangi Emisi Karbon

TERKAIT: Pertama Kali dalam Sejarah, Shell Diminta Bertanggung Jawab atas Kontribusi Perubahan Iklim Dunia

Charter tersebut pun memahami bahwa manusia juga memiliki peran dalam mengakibatkan perubahan iklim. Kemudian, industri ini akan menyetarakan diri dengan tujuan internasional guna melawan perubahan iklim agar suhu tidak mengalami peningkatan hingga tembus 1,5 derajat.

Stefan Seidel yang menjadi co-Chairs the Fashion Industry Charter Steering Committee menyebutkan, “Ini adalah pijakan penting bagi Fashion Charter, karena ini bisa menambah level ambisi dalam upaya untuk menyelaraskan industri dengan (tujuan) 1,5 derajat,” ungkap Stefan Seidel dari PUMA dalam keterangan resmi di COP26, dikutip dari Liputan6, Rabu (10/11/2021).

Ada pun beberapa merk yang ikut tanda tangan dalam upaya ini, seperti Burberry, H&M Group, VF Corporation, adidas, Kering, Chanel, Nike, PUMA dan suplai Crystal Group, TAL Apparel.

Memiliki Target di 2030

ilustrasi tips menggunakan pakaian serba hitam agar terlihat lebih trendi/pexels
ilustrasi tips menggunakan pakaian serba hitam agar terlihat lebih trendi/pexels

Tak hanya itu, Fashion Charter pun akan mendukung adanya 100 persen sumber listrik yang terbaru pada 2030. Bahkan, telah disebut target yang mereka ingin capai dengan bahan-bahan raw menjadi ramah lingkungan.

Seperti yang diketahui, batu bara menjadi salah satu target utama di COP26. Dengan begitu, mereka juga akan berjanji dengan memegang komitmennya untuk meninggalkan batu bara dari rantai suplai mereka di 2030.

Inggris menyatakan memiliki keinginan dalam memimpin komunitas internasional guna memberhentikan penggunaan batu bara yang berpotensi merusak lingkungan. “Ini merupakan sebuah sinyal bahwa kita perlu bekerja dengan lebih erat dengan rekan-rekan kita, rantai suplai kita, pembuat kebijakan dan konsumer agar berada di jalur menuju net-zero,” tutur Seidel dari PUMA.

Penulis: Atika Riyanda Roosni

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel