Industri Kecil Mencoba Bertahan di Tengah Pandemi Corona

Liputan6.com, Jakarta - Industri kecil mencoba bertahan di tengah pandemi virus corona covid-19 yang berada di Indonesia. Wabah ini memang membuat semua orang di dunia sulit melakukan pergerakan.

Namun sebuah industri makanan khas Indonesia, tempe mencoba bertahan mealaui industri rumahan. Kendati demikian, industri ini tetap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pemenuhan gizi seimbang.

Terbukti semua pengrajin tempe saat ini tumbuh dengan baik ditengah-tengah pandemi covid-19. Salah satu indikasi pertumbuhan tersebut adalah diresmikannya rumah tempe A Zaki, pada Jumat, (12/6/2020) di kawasan Bogor. Rumah tempe A Zaki adalah salah satu pengrajin tempe yang perlu mendapatkan apresiasi dari kita semua termasuk pemerintah daerah dan pusat.

"Hal yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah bagaimana pengrajin tempe mendapatkan supply kedelai dengan harga yang relatif murah karena tempe menghiasi semua meja makan masyarakat Indonesia dari mulai masyarakat sederhana sampai dengan masyarakat yang berpenghasilan tinggi" ujar Dr. H. Ikhsan Abdullah, SH., MH selaku Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch yang juga Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI.

Menurut data statistik yang dirilis oleh Departemen Pertanian AS (USDA), impor kedelai Indonesia diperkirakan mencapai 2,75 juta ton. Pada periode Oktober 2017/2018, impor kedelai mencapai 2,5 juta ton. Indonesia sendiri merupakan pasar ekspor pertanian AS ke-9 pada 2017, dengan nilai total 2,9 Milliar dolar AS atau setara dengan Rp. 40,6 trilun.

Perlu diketahui bahwa kedelai sebagai bahan utama tempe sampai saat ini 85% masih menggunakan kedelai import asal Amerika, berarti kita harus mengeluarkan devisa besar, padahal konon dahulu nenek moyang kita sebagai bangsa pemakan tempe dapat memenuhi sendiri kebutuhan kedelainya.

Ini tentu harus mendapatkan perhatian kita semua, bagaimana Indonesia yang memiliki universitas terkemuka dan fakulta-fakultas pertanian, lahan yang sangat luas serta sumber daya manusia yang cukup, akan tetapi masih terus bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan kedelai.

"Seharusnya kita dapat mengurangi ketergantungan tersebut, setidaknya petani kedelai kita dapat mengurangi angka import yang sangat besar tersebut."

"Devisa negara untuk belanja kedelai dapat digunakan untuk memperluas areal penanaman kedelai yang dapat memberikan pekerjaan untuk masyarakat demi meningkatkan pendapatan petani kedelai dan industry pertanian" jelas Ikhsan Abdullah.

 

Produksi yang Bersih

Peresmian Rumah Tempe A Zaki. (istimewa)

Industri kecil rumahan seperti rumah tempe A Zaki adalah satu prototype dari pabrik tempe di tanah air yang memperhatikan proses berproduksi yang bersih, sehat dan performance yang baik sehingga image di masyarakat terhadap pabrik tempe mulai berubah, yakni sebagai industri kecil rumahan yang modern, bersih, sehat dan halal.

Tempat dan alat-alat produksi rumah tempe A Zaki, selain diproduksi menggunakan mesin pengolahan yang modern juga karyawannya sangat memperhatikan protocol kesehatan Covid-19 yakni, menggunakan masker, sarung tangan, penutup kepala dan social distancing.

Diproduksi dengan menggunakan air bersih yang bersumber dari PDAM dan air sumur serta tidak menggunakan bahan artificial.

"Harapan saya rumah tempe A Zaki kedepan menjadi model prototype industry kecil rumahan khususnya pabrik tempe ditanah air," jelas Dr. H. Ikhsan Abdullah, S.H, MH.