Industri Kreatif Berbasis Kekayaan Intelektual Punya Masa Depan Cerah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta dan Katapel.ID telah menggelar sebuah program bimbingan teknis CHSE dan komersialisasi produk kreatif berbasis kekayaan intelektual pada 20-23 Desember kemarin di Jakarta.

Lewat program bertajuk "Katapel Jakarta" itu, para peserta dibekali pengetahuan tentang kekayaan intelektual, pengembangan hak kekayaan intelektual kreatif dan cara komersialisasinya. Tak hanya itu, mereka juga mendapat fasilitas untuk mendaftarkan merek hak kekayaan intelektual (HKI) mereka.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya menyatakan kesiapan DKI Jakarta sebagai hub bagi segenap karya kreatif di tanah air.

"Kreativitas anak-anak muda di Jakarta memiliki potensi sangat besar untuk kita kembangkan. Sebagai bentuk nyata dari semangat city of collaboration, pemerintah hadir melalui kegiatan ini," ujar Gumilar.

Dia pun berharap lebih banyak anak muda memahami industri kekayaan intelektual dan mendapatkan nilai ekonomi yang maksimal, sehingga "Jakarta akan dikenal sebagai ekosistem yang tepat bagi para kreator."

Masa depan cerah

Ilustrasi Industri Kreatif, Kekayaan Intelektual. Kredit: Colin Behrens via Pixabay
Ilustrasi Industri Kreatif, Kekayaan Intelektual. Kredit: Colin Behrens via Pixabay

Sementara itu, Praktisi Lisensi Senior Bambang Sutedja menyebut bahwa industri kekayaan intelektual kreatif mempunyai masa depan yang cerah.

Dia mencontohkan bagaimana Disney+ sebagai salah satu unit bisnis Disney menjadi sumber pemasukan baru bagi perusahaan di tengah pandemi.

"Ini membuktikan industri kekayaan intelektual kreatif mempunyai masa depan yang cerah. Dan kita, kreator Indonesia bisa segera mengambil bagian di dalamnya melihat kita mempunyai potensi yang tinggi," ujar Bambang.

Dia juga menyoroti Bumilangit yang belum lama ini menjalin kemitraan dengan Disney+ Hotstar.

Harapan

Kemudian Program Director Katapel.ID Robby Wahyudi menyampaikan harapannya agar program ini bisa menjadi kesempatan bagi para peserta untuk kian mengetahui berbagai hal seputar komersialisasi kekayaan intelektual.

"Ajang ini dirasakan perlu sebab selama ini banyak kreator memiliki kekayaan intelektual namun kesulitan melakukan komersialisasi," kata Robby.

Melalui program ini, menurut dia, pemilik brand bisa mengenal langsung dan melihat sudah seberapa jauh komersialisasi kekayaan intelektual lokal, yang mempunyai potensi besar untuk bersanding dengan kekayaan intelektual dunia.

"Forum ini juga sebagai upaya dari program Katapel untuk menciptakan ekosistem bagi pelaku ekonomi kreatif," kata Robi.

Sederet pemateri dengan latar belakang praktisi kekayaan intelektual diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, antara lain Mochtar Sarman, Helena Irma, Bambang Sutedja, Rahadian Agung, dan Ade Novita.