Industri Otomotif Indonesia Sering Diterpa Badai

Yunisa Herawati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Setiap tahun para pelaku industri otomotif di Indonesia gencar menghadirkan produk baru, demi memenuhi kebutuhan konsumen. Pameran digelar, dan diskon disebar untuk menarik minat masyarakat.

Hal ini dilakukan beberapa kali dalam satu tahun, membuat industri tersebut tampak semarak dan berkembang pesat.

Namun, jika kita melihat jauh ke belakang, industri kendaraan bermotor bukan bebas dari terpaan badai. Sejak masuk era 2000-an, sudah ada tiga peristiwa yang membuat angka penjualan produk otomotif menurun.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier saat menjadi pembicara webinar Diskusi Virtual Industri Otomotif ‘Upaya Pemerintah Bangkitkan Industri Otomotif dari Dampak Pandemi COVID-19’ secara daring.

“Dari 2005, industri otomotif memang sensitif terhadap perubahan global. Ada peningkatan harga minyak, penjualan otomotif turun sampai 40 persen di 2006. Kemudian ada krisis Lehman di 2009, turun lagi 19-22 persen,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Kamis 12 November 2020.

Taufik melanjutkan, pada 2015 rupiah sempat melemah dan ekonomi global mengalami perlambatan. Hal itu menyebabkan turunnya angka penjualan produk otomotif sebanyak 16 persen, dan produksi sebesar 15 persen.

“Krisis moneter 2015, penjualan mobil turun sekitar 15-16 persen. Sekarang COVID-19, di seluruh global turun 40-50 persen,” tuturnya.

Menurut Taufiek, saat ini kondisi industri otomotif nasional berangsur membaik. Namun, tetap perlu kebijakan dari pemerintah agar situasi bisa kembali seperti normal. Seperti yang pernah dilakukan pada 2013, yakni dengan mengeluarkan kebijakan kendaraan low cost green car.

“Ada kebijakan yang positif. Begitu keluarkan LCGC, itu meningkat karena harga kompetitif,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah mau menyiapkan skema khusus untuk mempermudah konsumen dalam membeli kendaraan bermotor.

“"Kekuatan konsumen untuk membeli itu menjadi penting, jadinya butuh instrumen ke arah situ,” jelasnya.

Baca Juga: Demi Kaum Pekerja, Pemerintah Diminta Bantu Warga Beli Mobil