Industri Pengolahan Sumbang NPL Terbesar hingga Oktober 2019

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Oktober 2019 rasio Net Performing Loan (NPL/rasio kredit macet) gross perbankan naik menjadi 2,73 persen secara bulanan dari sebelumnya 2,66 persen. Sementara secara nett, NPL juga meningkat menjadi 1,21 persen dari sebelumnya 1,15 persen.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo mengatakan, kenaikan yakni NPL paling banyak disumbang oleh sektor industri pengolahan. Sektor industri tersebut memiliki total utang kepada perbankan hingga Rp 900 triliun.

"Itu NPL-nya dibandingkan dengan posisi Oktober sebelumnya itu kan dia NPL-nya naik dari Desember (2018) itu sekitar 2,5 persen ke 4,12 persen," kata dia, di Jakarta, Jumat (29/11).

Kinerja sektor industri yang demikian, OJK mencatat, juga dipengaruhi oleh kasus yang menimpa Duniatex Group. "Di industri ini terutama saya kira disumbangkan dari kasus Duniatex Grup ya. Kan di industri ini bukan hanya mencatat di industri hilirnya saja tetapi juga hulunya juga," ungkapnya.

 

Total Utang Rp 22 Triliun

Ilustrasi OJK

Dia mengatakan, kini total utang Duniatex Grup sekitar Rp 22 triliun. Jumlah utang tersebut, merupakan total utang gabungan dari induk usaha, anak usaha dan juga total utang pribadi. Total utang itu juga bukan hanya berasal dari bank namun juga dari non bank.

Saat ini, jelas dia, kasus tersebut masih dalam tahap sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), penghitungan tersebut masih belum final. Sebab hasil penghitungan total utang masih menunggu sidang PKPU.

Sementara untuk pertumbuhan kredit, lanjut dia sektor pertambangan mencatatkan penurunan kinerja. Per Oktober, pertumbuhan kredit sektor pertambangan minus 4 persen.

"Pertumbuhan kredit sektoral yang paling dalam turun itu pertambangan. Dia pertambangan turun sekitar Rp 5 triliun turunnya sekitar -4 persen," urai dia.

 

Infrastruktur

Petugas saat bertugas di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta,(4/11/2015). Pengawas Pasar Modal OJK mengatakan pembahasan enam beleid sudah final karena tidak ada lagi perdebatan dari segi substansi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dia mengatakan, kesiapan infrastruktur transportasi juga menjadi faktor berpengaruh pada kinerja pertambangan. Sehingga meskipun mulai ada peningkatan harga baru bara, tapi jika transportasi tidak siap, maka akan menghambat kinerja pertambangan.

"Karena suply chain pertambangan seperti transportasi di hilir itu masih belum bangkit. Walaupun harga misalnya batu bara naik, tapi transportasinya terganggu juga tidak bisa ekspor atau produksinya," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: