Industri sawit didorong buat produk ramah lingkungan dengan ekolabel

M Razi Rahman
·Bacaan 2 menit

Industri kelapa sawit didorong untuk bisa menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial dengan menerapkan standar-standar kelapa sawit berkelanjutan yang sesuai dengan ketentuan dalam sertifikasi baik seperti RSPO maupun sertifikat sawit berkelanjutan lainnya.

Senior Manager Global Community Outreach and Engagement Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Imam A El Marzuq dalam acara Konsumer Cerdas 2021 yang diselenggarakan WWF dipantau secara daring di Jakarta, Kamis, mengatakan produk turunan kelapa sawit yang telah menerapkan prinsip-prinsip dalam sertifikasi RSPO telah berkontribusi dalam melindungi lingkungan dan isu sosial.

Imam mengatakan produk turunan kelapa sawit yang telah menerapkan prinsip-prinsip dalam sertifikasi sawit berkelanjutan akan mendapatkan logo ekolabel di kemasan produknya. Logo tersebut menandakan produk turunan kelapa sawit itu telah menjalankan prinsip sawit berkelanjutan.
Baca juga: Koaksi: Mayoritas perusahaan sawit belum tersertifikasi berkelanjutan

"Kalau kita lihat fungsi ekolabel pada dasarnya adalah alat bantu untuk konsumen untuk tahu dari awal bahwa produknya berasal dari pengelolaan yang baik," kata Imam.

Dia menjelaskan bahwa dalam proses pengolahan produk kelapa sawit dari tandan buah segar untuk menghasilkan minyak hanya sekitar 25 persen dari tiap satu tandan buah.

Sementara limbah sisanya, masih menurut dia, ada yang sebagian menjadi residu dan dapat berdampak buruk pada lingkungan.
Baca juga: Pemerhati: Sinergi pemerintah-swasta penting untuk SDA berkelanjutan

Ia juga mengemukakan bahwa industri yang menerapkan prinsip-prinsip sertifikasi sawit berkelanjutan sudah berkomitmen dalam proses produksinya menerapkan prinsip-prinsip yang menjaga lingkungan.

Quality Assurance System Manager PT Wahana Citra Nabati Sri Nurvianti mengemukakan dalam prinsip RSPO, perusahaan menerapkan konsep NDPA yaitu produksi sawit tanpa deforestasi atau menggunduli hutan, tidak menanam di lahan gambut, dan tidak mengeksploitasi tenaga manusia atau sangatn menghormati HAM. Konsep tersebut diharapkan dapat menciptakan produksi kelapa sawit yang berkelanjutan hingga di masa mendatang.

Perusahaan yang menerapkan prinsip tersebut mendapatkan logo ekolabel di kemasan produk turunan kelapa sawit yang dijadikan rujukan bagi konsumen untuk bisa memilih produk yang dihasilkan dengan cara-cara ramah lingkungan dan sosial.

Baca juga: Belanda dukung Indonesia produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan
Baca juga: Apkasindo usulkan pemerintah susun peta jalan sawit berkelanjutan
Baca juga: Gapki dorong petani terapkan praktek kelapa sawit berkelanjutan