Industri telekomunikasi hadapi perang harga

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Industri telekomunikasi di Indonesia menghadapi persaingan ketat berupa perang harga antarsesama operator dengan mengeluarkan paket unlimited dalam upaya menarik sebanyak mungkin pelanggan di saat masa pandemi.

"Perang harga sedang terjadi berkepanjangan sampai tahun depan. Sebetulnya perang harga tidak diinginkan oleh semua operator sehingga harus diarahkan kompetisi yang rasional dan wajar," kata Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat.

Dikatakan, selama masa pandemi ini hampir semua operator mengeluarkan paket unlimited yang mendorong industri ke arah perang harga. "Apabila efek COVID-19 terhadap industri meningkat, dapat membuat perang harga akan semakin sengit," katanya.

Dia mengatakan seperti halnya sektor industri lainnya, industri telekomunikasi juga sangat terpukul dengan adanya pandemi yang sampai saat ini belum menunjukkan penurunan
sehingga membawa ketidakpastian luar biasa serta sulit menentukan perkiraan dan asumsi yang bisa mempengaruhi kinerja perusahaan.

"Secara nasional industri telekomunikasi nasional akan tumbuh negatif pada tahun ini dan tahun 2021 diperkirakan juga belum pulih sepenuhnya," kata Dian.

Dikatakan, pandemi berdampak pada daya beli masyarakat, dan itu juga sangat dirasakan oleh semua operator, tapi turunnya daya beli masyarakat ini ternyata tidak menurunkan intensitas kompetisi di industri.

Semua operator justru berlomba menawarkan berbagai produk, yang selain disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat untuk tetap produktif dan akses ke hiburan, juga disesuaikan dengan kemampuan beli masyarakat. "Kita bisa lihat produk-produk dengan harga yang lebih terjangkau atau bonus yang lebih banyak," katanya.

Untuk mempertahankan eksistensi saat pandemi, perusahaan berupaya bisa mempertahankan kinerja dengan mendorong penjualan dan di saat yang sama melakukan efisiensi di hampir semua lini bisnis.

Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata, I Gede Darmayusa, mengatakan pandemi COVID-19 tidak menghalangi XL Axiata untuk terus membangun jaringan.

Hingga akhir September 2020, perusahaan tercatat memiliki total lebih dari 142 ribu Base Transceiver Station (BTS). Jumlah ini meningkat sekitar 10 persen dari jumlah BTS di periode yang sama tahun lalu. Dari total sebanyak itu, 53.055 merupakan BTS 4G.

"Sementara itu, jika dilihat dari luas cakupan wilayah, jaringan 4G milik XL Axiata telah melayani pelanggan di 458 kota/kabupaten di hampir semua provinsi yang ada di Republik Indonesia," katanya.

Baca juga: Indosat Ooredoo raih pertumbuhan dua digit pada triwulan I 2020
Baca juga: Apjatel: Aturan jaringan utilitas berpotensi tambah beban industri
Baca juga: BRTI soroti rencana Pemprov DKI atur jaringan utilitas telekomunikasi