Inflasi 2022 Diprediksi Bisa di Bawah 6,3 Persen

Merdeka.com - Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan tingkat inflasi Indonesia sepanjang tahun bisa di bawah 6,3 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dari perkiraan semula yang bisa tembus 6,6 persen (yoy) karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.

"Akhir tahun semula kami perkirakan 6,6 persen (yoy) dengan realisasi ini bisa lebih rendah dari 6,3 persen (yoy)," kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual, Kamis (3/11).

Perry menjelaskan ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, tingkat inflasi di bulan Oktober diperkirakan tembus 6,1 persen (yoy). Mengingat tingkat inflasi di bulan September naik ke level 5,95 persen (yoy). Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Mengalami deflasi di bulan Oktober sehingga tingkat inflasinya hanya 5,71 persen (yoy).

"Semula waktu penyesuaian harga BBM inflasi Oktober bisa capai 6,1 persen (tapi) realisasinya 5,7 persen," kata dia.

Sementara itu terkait perkembangan inflasi inti pada bulan Oktober 2022 ada di level 3,3 persen. Angka ini juga lebih rendah dari yang diperkirakan bisa 3,7 persen. Sehingga di akhir tahun, tingkat inflasi inti diperkirakan bisa berada di level 4,3 persen atau lebih rendah lagi. Hal ini didukung koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan pangan.

"Ada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Gerakan Nasional Pengendali Inflasi Pangan (GNPIP), dan Bu Menteri yang memberikan insentif kepada gubernur, walikota dan bupati yang mampu menurunkan inflasi pangan, bisa beri insentif," tuturnya.

Inflasi pangan yang lebih rendah bahkan mengalami deflasi ini kemudian menjadi faktor positif. Perry mengatakan dalam berbagai lapisan dampak kenaikan harga BBM subsidi nyatanya tidak terlalu mengganggu stabilitas perekonomian. Tercermin dari tingkat inflasi lebih rendah, termasuk terhadap inflasi IHK maupun inflasi inti

Adapun faktor lainnya dari stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI. Seluruh negara mengalami dampak kuatnya dolar. "Secara year to date sudah menguat atau apreaisi hampir 29 persen," kata dia.

Untuk itu, Bank Indonesia melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan intervensi, baik spot maupun forward dan operasi SBN pasar sekunder. Agar depresiasi rupiah terjaga. [azz]