Inflasi dan kenaikan suku bunga tekan pemulihan ekonomi Selandia Baru

Ekonomi Selandia Baru sedang berjuang melewati berbagai tantangan, terutama inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga, menurut laporan dari Institut Penelitian Ekonomi Selandia Baru.

Tantangan-tantangan ini datang saat krisis tenaga kerja berkepanjangan masih melanda negara itu, dengan dampak pandemi COVID-19 yang masih terlihat jelas, terutama di sektor jasa. Faktor-faktor ini juga menekan pemulihan ekonomi, dengan tanda-tanda perlambatan aktivitas di banyak industri, kata Christina Leung, kepala ekonom di institut tersebut, pada Rabu (31/8).

"Tekanan biaya bagi rumah tangga maupun bisnis masih intens, dan hal ini mendorong pesimisme," sebut Leung, seraya menambahkan bahwa bank sentral di seluruh dunia merespons lonjakan inflasi dengan menaikkan suku bunga dengan cepat.

"Meski ini memiliki efek peredam yang diharapkan terhadap permintaan, ada kekhawatiran bahwa aktivitas akan melambat hingga mendorong ekonomi ke dalam resesi," imbuhnya
"Meski ini memiliki efek peredam yang diharapkan terhadap permintaan, ada kekhawatiran bahwa aktivitas akan melambat hingga mendorong ekonomi ke dalam resesi," imbuhnya

Kenaikan suku bunga memiliki efek paling cepat terhadap pasar perumahan, dengan angka penjualan rumah turun dan penurunan harga rumah.

Data penjualan retail terbaru menunjukkan perlambatan dalam belanja retail, dan ini diperkirakan akan berlanjut seiring rumah tangga mengurangi aktivitas belanja guna melewati tantangan berupa kenaikan biaya hidup dan peningkatan pembayaran hipotek, kata Leung.

Terlepas dari berbagai tantangan itu, ke depannya masih terdapat sejumlah faktor yang mendukung pemulihan. Hal ini meliputi pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, kemunculan tanda-tanda bahwa tekanan biaya mulai mereda, terutama dengan penurunan harga bahan bakar baru-baru ini, menurut laporan itu.