Inflasi RI 4,9 Persen per Juli, Wamenkeu: Harga Pangan Pendorong Utama

Merdeka.com - Merdeka.com - Per Juli 2022 tingkat inflasi di Indonesia telah mencapai 4,9 persen. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai, kenaikan inflasi tersebut dipicu naiknya harga-harga bahan pangan. Mengingat pemerintah telah menekan kenaikan harga BBM, listrik dan LPG 3 kilogram.

"Harga pangan ini utamanya yang harga pangan pangan yang mengalami volatile karena faktor musiman," kata Suahasil dalam Talkshow bertajuk: Laju Pemulihan RI Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global, Jakarta, Selasa (9/8).

Suahasil menjelaskan pemerintah telah memberikan subsidi untuk harga pangan lewat harga pupuk. Namun ketersediaan pangan ini kata dia juga perlu dukungan lain seperti ketersediaan suplai dan alur distribusi pangan.

"Pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini sudah membuatkan jalan dari sentra produksi ke pasar," kata dia.

Pemerintah juga telah berupaya membaca tingkat konsumsi masyarakat untuk memastikan ketersediaan bahan pangan. Semisal dalam saat hari raya, musim liburan atau momen tertentu yang tingkat konsumsinya meningkat.

"Ini juga harus disiapkan secara detail," katanya.

Redam Dampak Inflasi Memakai APBN

inflasi memakai apbn
inflasi memakai apbn.jpg

Di sisi lain, Suahasil mengatakan inflasi yang disebabkan harga pangan juga memiliki komponen lainnya. Ada harga yang sifatnya administered price atau harga barang dan jasa yang ditetapkan pemerintah seperti harga BBM dan energi, inflasi komponen bergejolak (volatile food) dan inflasi inti.

"Ini harus diperhatikan dengan baik angkanya tahun ini agar bisa terkendali sehingga kegiatan ekonomi ini tetap berlanjut dan APBN akan support," kata dia.

Suahasil mengatakan posisi instrumen Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) akan menjadi syok absorber untuk memastikan inflasi tetap bisa ditangani dan menjaga daya beli masyarakat dengan memberikan perlindungan sosial. Namun disisi lain, pemerintah juga harus bisa menekan defisit APBN di akhir tahun 2022 sampai 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Sambil kita gelontorkan dana buat menangani inflasi, APBN ini harus lebih sehat dengan defisit kita turunkan. Pembiayaan utang juga kita minimalkan buat situasi APBN sekarang," kata dia mengakhiri. [bim]