Inggris Klaim Serangan Jet Tempur RAF Habisi Kelompok ISIS di Irak

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandemi Virus Corona atau COVID-19 ternyata tak membuat Inggris mengendurkan perlawanannya terhadap kelompok teroris ISIS. Baru-baru ini, Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force/RAF) melakukan serangan terhadap ke sebuah daerah yang diduduki oleh anggota ekstrimis sayap kanan ini.

Adalah media ternama Inggris, Mirror, yang melaporkan bahwa dua jet tempur milik RAF, Eurofighter Typhoon, melancarkan serangannya sebuah kota Tuz Khurma, Distrik Tooz, bagian utara Irak, Minggu 26 April 2020.

Kementerian Pertahanan Inggris menyebut bahwa kota ini sudah menjadi sasaran pengintaian Drone Reaper yang dikerahkan RAF sejak 10 April 2020 lalu. Setelah dipastikan bahwa kota itu diduduki oleh para teroris ISIS, RAF pun langsung mengerahkan dua unit Eurofighter Typhoon dari Pangkalan Udara Militer Akrotiri, Siprus.

VIVA Militer: Drone Reaper Angkatan Udara Inggris (RAF)
VIVA Militer: Drone Reaper Angkatan Udara Inggris (RAF)

"Kami mengidentifikasi sekelompok teroris yang menempati bangunan berbenteng di lokasi terpencil di sebelah barat Tuz Khurma," bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris (Ministry of Defence).

Sebagai bagian dari operasi khusus penumpasan anggota teroris ISIS yang dinamakan Operasi Shader, sepasang jet tempur Inggirs itu langsung membombardir kota Tuz Khurma. Inggris mengklaim sejumlah anggota ISIS tewas dalam serangan udara yang dilancarkan RAF.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan tak ada data resmi berapa jumlah anggota ISIS yang tewas dalam serangan itu. Meski demikian, Kementrian Pertahanan Inggris memastikan bahwa pengawasan sudah dilakukan secara menyeluruh, sehingga dipastikan tidak ada korban sipil yang jatuh.

VIVA Militer: Jet Tempur Angkatan Udara Inggris (RAF), Eurofighter Typhoon
VIVA Militer: Jet Tempur Angkatan Udara Inggris (RAF), Eurofighter Typhoon

"Pesawat itu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh atas daerah non-milisi, sebelum menggunakan bom berpemandu untuk menghancurkan bangunan itu. Semua senjata menghantam sasaran mereka, dan ada jaminan tidak ada kerusakan (di pemukiman sipil)," lanjut pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris.

Pasca serangan tersebut, Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace menegaskan, Inggris akan senantiasa siaga dalam perang melawan terorisme. Meskipun pada kenyataannya, negara Monarki Konstitusional ini jadi yang kelima dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia.

"Pertahanan Inggris tidak akan tertidur dan akan selalu melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi rakyat kami," kata Wallace.