Inggris Komitmen Sumbang Kelebihan Vaksin untuk Negara Berkembang

Mohammad Arief Hidayat, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meminta dukungan para pemimpin dunia untuk mempercepat pengembangan vaksin, pengobatan, dan pengetesan COVID-19.

Boris menyatakan ambisinya untuk mengurangi waktu pengembangan vaksin baru menjadi 100 hari atau dua pertiga kali lebih cepat. Hal ini disampaikan dalam pertemuan para pemimpin G-7, di bawah kepresidenan Inggris.

Ia mengatakan pengembangan vaksin COVID-19 dalam waktu sekitar 300 hari merupakan capaian global luar biasa. Namun dengan mengurangi waktu menjadi lebih cepat, hal ini dapat mencegah dampak bencana kesehatan, ekonomi dan sosial.

Baca: Mengenal Vaksin Nusantara, yang Sedang Uji Klinis di Semarang

"Melalui kolaborasi internasional untuk mengembangkan riset dan pengembangan, memodernisasi uji medis, dan menciptakan jaringan manufaktur serta produksi yang lebih inovatif, kita dapat menyelamatkan nyawa di krisis kesehatan di masa depan dan mencegah pandemi berikutnya," kata Johnson, dalam rilis Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Jumat 19 Februari 2021.

Johnson juga memastikan bahwa Inggris akan mulai memberikan sebagian besar kelebihan vaksin COVID-19 dari persediaannya, kepada aliansi vaksin multilateral COVAX, untuk membantu negara-negara berkembang. Hal ini di luar pendanaan Inggris sebesar Rp10,7 triliun kepada skema ini.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins mengatakan keputusan negaranya untuk mendonasikan kelebihan vaksinnya di masa depan kepada negara-negara berkembang lewat COVAX adalah kabar yang sangat baik.

"Indonesia adalah salah satu dari 92 negara yang dapat memperoleh vaksin melalui COVAX dan, karena itu, sangat memungkinkan menjadi salah satu negara yang dapat diuntungkan oleh kebijakan sumbangan ini," ujar Jenkins.