Inggris memilih untuk memutuskan nasib Brexit, lagi

Oleh Guy Faulconbridge dan Elizabeth Piper

LONDON (Reuters) - Para pemilih pergi ke tempat pemungutan suara pada Kamis dalam pemilihan yang akan membuka jalan bagi Brexit di bawah Perdana Menteri Boris Johnson atau mendorong Inggris menuju referendum lain yang pada akhirnya dapat membalikkan keputusan meninggalkan Uni Eropa.

Setelah gagal memberikan Brexit pada batas waktu 31 Oktober, Johnson menyerukan pemilihan 12 Desember untuk mematahkan apa yang ia sebut sebagai kelumpuhan politik yang telah menggagalkan kepergian Inggris dan melemahkan kepercayaan pada ekonomi.

Wajah kampanye "Leave" dalam referendum 2016, Johnson yang berusia 55 tahun bertarung dalam pemilu di bawah slogan "Get Brexit Done", berjanji untuk mengakhiri kebuntuan dan membelanjakan lebih banyak untuk kesehatan, pendidikan, dan polisi.

Lawan utamanya, pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn, 70 tahun, menjanjikan pengeluaran publik yang lebih tinggi, nasionalisasi layanan-layanan utama, pajak atas orang kaya dan referendum lain tentang Brexit.

Semua jajak pendapat utama menunjukkan Johnson akan menang, meskipun jajak pendapat salah memprediksi hasil referendum 2016 dan sebagian besar jajak pendapat menunjukkan kecenderungan untuk memenangkan Partai Konservatif sejak era Margaret Thatcher.

"Kami dapat memiliki pemerintahan mayoritas Konservatif yang akan menyelesaikan Brexit dan mengeluarkan potensi Inggris," kata Johnson kepada para juru kampanye. "Pemilihan ini adalah kesempatan kita untuk mengakhiri kemacetan tetapi hasilnya belum pasti."

Corbyn mengatakan Konservatif adalah partai "miliarder" sementara Buruh mewakili banyak.

"Anda dapat memilih keputusasaan dan memilih ketidakjujuran pemerintah ini, atau Anda dapat memilih Parti Buruh dan mendapatkan pemerintah yang dapat membawa harapan ke masa depan," katanya.

Pemilu dibuka pada 07:00 GMT dan ditutup pada 22:00 GMT di mana indikasi pertama hasil akan keluar. Hasil resmi dari sebagian besar 650 konstituensi Inggris mulai masuk dari 23:00 GMT hingga 05:00 GMT.

Inggris tidak pernah mengadakan pemilu pada Desember sejak 1923. Pemilu yang dibingkai proses Brexit yang rumit ini telah membuat banyak pemilih lelah, bersemangat, bahkan marah, seiring kesetiaan mereka kepada dua partai besar terkikis.

Hasil mayoritas akan memungkinkan Johnson untuk memimpin negara keluar dari Uni Eropa untuk kali pertama sejak bergabung pada 1973, tetapi Brexit masih jauh dari selesai. Dia masih harus menghadapi tugas yang berat untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan dengan UE dalam tenggat waktu 11 bulan.

Setelah 31 Januari, Inggris akan memasuki masa transisi di mana ia akan menegosiasikan hubungan baru dengan EU27. Dia telah berjanji untuk melakukan itu pada akhir tahun 2020.

BREXIT DAN BORIS

Pasar Sterling memperkirakan kemenangan Johnson. Tetapi lima tahun kebingungan dari dua referendum bersejarah -- kemerdekaan Skotlandia pada tahun 2014 dan Brexit pada tahun 2016 -- dan dua pemilihan nasional pada tahun 2015 dan 2017 telah memberikan hasil yang seringkali tidak terduga yang mengantarkan pada krisis politik.

Pemilu tersebut memaksa rakyat Inggris untuk memilih dua politisi Inggris yang paling tidak konvensional beberapa tahun belakangan ini. Keduanya telah berulang kali dipelintir oleh lawan, dan keduanya menawarkan visi yang sangat berbeda untuk ekonomi terbesar kelima di dunia itu.

Pidato Johnson kebanyakan berfokus pada Brexit, menghindari untuk mengkampanyekan sesuatu yang lebih radikal. Sedangkan Corbyn mengajukan apa yang disebutnya transformasi radikal untuk negara yang telah lama melekat pada liberalisme pasar bebas.

Johnson, mantan Wali Kota London yang lahir di New York, memenangkan jabatan teratas itu pada Juli. Pendahulunya, Theresa May, mengundurkan diri setelah gagal mendapatkan dukungan parlemen untuk kesepakatan Brexit-nya dan kemudian kehilangan mayoritas partainya dalam pemilu.

Johnson menentang kritik dengan membuat kesepakatan baru dengan Uni Eropa tetapi tidak dapat menavigasi labirin parlemen Inggris yang terpecah dan dikalahkan oleh lawan yang ia gambarkan sebagai pengkhianat yang menumbangkan kehendak rakyat.

Rakyat Inggris memberikan suara sebesar 52 persen -48 persen pada tahun 2016 untuk keluar dari UE. Tetapi parlemen telah menemui jalan buntu sejak May gagal dalam pemilu yang dipercepat pada 2017 tentang bagaimana, kapan dan bahkan apakah akan pergi.

SALAH LANGKAH

Corbyn, yang pernah menjadi lawan Uni Eropa yang sekarang mengatakan dia akan tetap netral jika dia seorang perdana menteri yang mengawasi referendum lain, berulang kali dicerca karena rencana Brexit-nya. Dia berjanji untuk menggulingkan "sistem yang dicurangi" yang katanya dijalankan oleh miliarder dan penghindar pajak.

Keduanya membuat kesalahan langkah selama kampanye.

Johnson dalam satu wawancara menolak untuk melihat foto seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang sakit dipaksa berbaring di lantai rumah sakit dan kemudian mengambil telepon dari seorang reporter dan mengantonginya. Dia kemudian meminta maaf.

Corbyn, seorang juru kampanye kawakan untuk hak-hak Palestina, berulang kali menghindari meminta maaf atas apa yang dikatakan oleh beberapa anggota partai, anggota parlemen dan pemimpin Yahudi adalah kegagalannya untuk mengatasi anti-Semitisme dari beberapa elemen dalam partai. Dia akhirnya meminta maaf.

Strategi Johnson adalah untuk mematahkan apa yang disebut Partai Buruh sebagai "Tembok Merah" dari kursi di daerah-daerah pendukung Brexit di Midlands dan Inggris utara di mana ia menggambarkan lawan politiknya sebagai musuh-musuh Brexit yang tidak tersentuh.

"Jika saya jujur dengan Anda, tidak ada pilihan," kata pemilih Andrew Davis, dari Kent di Inggris selatan. "Saya tidak suka salah satu kandidat utama, jadi saya kesulitan."