Inggris Setujui Penggunaan Vaksin Corona Oxford-AstraZeneca

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Vaksin virus corona buatan para ilmuwan Universitas Oxford telah disetujui penggunaannya di Inggris.

Lampu hijau dari regulator kesehatan Inggris ini berarti vaksin tersebut aman dan efektif digunakan. Sebelumnya, pemerintah Inggris telah memesan 100 juta dosis dari AstraZeneca sehingga dapat dipakai untuk memvaksinasi 50 juta orang.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan kepada BBC, vaksin tersebut akan mulai didistribusikan pada Senin (04/01). Dia menegaskan dirinya bisa "berkata dengan yakin sekarang bahwa kami dapat memvaksinasi semua orang".

"Kami punya vaksin ini dalam jumlah yang cukup guna memvaksinasi seluruh populasi – 100 juta dosis. Tambahkan dengan 30 juta dosis Pfizer dan itu cukup bagi seluruh populasi untuk menerima dua dosis masing-masing."

Vaksin Oxford-AstraZeneca pertama kali dirancang pada bulan-bulan awal 2020 dan diuji secara perdana kepada sejumlah relawan pada April lalu. Selanjutnya, vaksin tersebut diujicobakan secara klinis dengan melibatkan ribuan orang.

Vaksin tersebut adalah vaksin kedua yang disetujui penggunaannya di Inggris setelah vaksin buatan Pfizer-BioNTech mendapat izin resmi pada Desember.

Sejauh ini lebih dari 600.000 orang di Inggris telah divaksinasi sejak Margaret Keenan menjadi orang pertama di dunia yang diimunisasi di luar uji klinis.

Vaksin Oxford-AstraZenec diyakini akan meningkatkan jumlah vaksinasi secara signifikan mengingat vaksin tersebut relatif murah dan mudah untuk diproduksi secara massal.

Vaksin itu dapat disimpan di kulkas standar, tidak seperti vaksin Pfizer-BioNTech yang harus disimpan di penyimpanan ultra-dingin dengan suhu -70 derajat celsius. Dengan demikian, akan jauh lebih mudah menyimpan vaksin buatan Oxford di panti wreda dan rumah sakit.

Sejauh ini pemerintah Inggris telah menetapkan kelompok-kelompok masyarakat yang akan mendapat prioritas vaksinasi, seperti kaum lansia, penghuni panti wreda, tenaga kesehatan, dan pekerja panti wreda.

Izin untuk vaksin tersebut mengemuka setelah Badan Kesehatan Masyarakat Inggris mengatakan negara itu menghadapi tingkat penularan "yang belum pernah terjadi sebelumnya". Para pejabat kesehatan di Wales, Skotlandia, dan bagian selatan Inggris sudah menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya tekanan pada Layanan Kesehatan Inggris.

Strategi satu dosis

Imunisasi di Inggris akan digencarkan agar semakin banyak orang menerima suntikan vaksin yang pertama.

Tujuannya adalah sebanyak mungkin memberikan perlindungan kepada kaum rentan dari ancaman Covid-19.

Keputusan itu didasari pada anjuran dari Komite Gabungan Vaksinasi dan Imunisasi.

Juru bicara Departemen Kesehatan dan Layanan Sosial berkata: "Prioritasnya adalah memberikan dosis pertama sebanyak mungkin kepada orang-orang dari kelompok rentan, ketimbang menyediakan dua dosis yang disyaratkan, dalam waktu sesingkat mungkin.

"Semua orang akan menerima dosis kedua mereka dan pemberian ini dilakukan dalam jangka waktu 12 pekan setelah dosis pertama. Dosis kedua merampungkan syarat [vaksinasi] dan hal itu penting untuk perlindungan jangka panjang."

Bagaimana cara kerjanya?

Vaksin buatan Oxford-AstraZeneca merupakan virus flu biasa yang direkayasa secara genetika. Virus flu tersebut umumnya menular pada simpanse.

Namun, virus itu diubah agar tidak menyebabkan penularan pada manusia serta direkayasa untuk membawa `cetak biru` bagian virus corona yang dikenal dengan protein taji.

Begitu `cetak biru` ini berada di dalam tubuh, ia akan mulai memproduksi protein taji virus corona. Sistem kekebalan tubuh lantas mengenalinya sebagai ancaman dan berupaya menghancurkannya.

Lalu, ketika suatu saat sistem kekebalan tubuh benar-benar berkontak dengan virus corona, sistem kekebalan tubuh sudah terlatih dan langsung menyerang virus corona tersebut.

vaksin
vaksin