Ingin Lakukan Pembicaraan Damai, Pemerintah Inggris Ingin Temui Striker Manchester United

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Inggris ingun temui para pesepak bola Inggris termasuk Marcus Rashford untuk lakukan pembicaraan damai setelah banyak masalah yang terjadi sebelumnya.

Dilansir dari Daily Mail, Pemerintah Inggris ingin memperbaiki hubungan dengan para pemain setelah kasus mengolok-olok publik yang dialami pemain.

Serta masalah yang terjadi akibat kesalahan anggota parlemen yang telah mengasingkan komunitas sepak bola.

Kerusuhan semakin besar setelah Sekretaris Negara untuk Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Nadine Dorries, secara terbuka mengkritik pesepak bola Inggris.

Meminta Maaf

Bukayo Saka, Jadon Sancho, dan Marcus Rashford menjadi korban rasialisme online setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti untuk Timnas Inggris di final Euro 2020. (AFP/Laurence Griffiths)
Bukayo Saka, Jadon Sancho, dan Marcus Rashford menjadi korban rasialisme online setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti untuk Timnas Inggris di final Euro 2020. (AFP/Laurence Griffiths)

Awal bulan september, mantan Menteri Pendidikan Inggris Gavin Williamson terpaksa meminta maaf setelah membuat kegaduhan antara Marcus Rashford dan bintang rugby Maro Itoje dalam sebuah wawancara.

Dalam sebuah pernyataan, Williamson mengakui: 'Menjelang akhir wawancara, saya berbicara tentang laptop dan kampanye makanan sekolah, saya mencampuradukkan masalah dan membuat kesalahan yang nyata.

“Kami mengoreksi ini dengan jurnalis sebelum publikasi cerita. Saya sangat menghormati Marcus Rashford dan Maro Itoje yang menjalankan kampanye yang efektif dan menginspirasi." Ujarnya.

Isyarat Politik

Para pemain berlutut untuk mendukung gerakan Black Lives Matter sebelum pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Brighton and Hove Albion di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Selasa (20/4/2021). Pertandingan berakhir 0-0. (Neil Hall/Pool via AP)
Para pemain berlutut untuk mendukung gerakan Black Lives Matter sebelum pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Brighton and Hove Albion di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Selasa (20/4/2021). Pertandingan berakhir 0-0. (Neil Hall/Pool via AP)

Kurangnya dukungan yang jelas dari pemerintah untuk sepak bola di Inggris adalah faktor yang membuat masalah ini kian rumit.

Sekretaris dalam negeri Inggris menyebut ritual berlutut para pemain Inggris sebelum bertanding malah menjadi kebiasaan ‘isyarat poltik’. Pernyataan itu semakin memicu kemarahan The Three Lions.

Perdana menteri Borish Johnson justru menolak para pendukung untuk mencemooh para pemain Inggris saat berlutut sebagai bentuk penghormatan sebelum bertanding.

Penulis: Ali Muhammad

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel