Ingin Menua Tapi Tetap dalam Kondisi Sehat? Perhatikan 5 Hal Ini

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Memasuki kelompok lanjut usia (lansia) memiliki ketakutan dan kekhawatiran tersendiri bagi beberapa orang. Takut muda lupa, takut memiliki penyakit, takut tidak bisa melakukan apapun, dan berbagai ketakutan lainnya.

Ketika masuk fase lanjut usia, secara psikologis tentu ada penurunan kognitif dan produktivitas. Berbeda dengan kelompok anak muda yang masih energik, semangat, dan memiliki daya juang yang lebih tinggi. Tentunya, mereka juga memiliki peluang untuk terhindar dari berbagai macam penyakit.

Kekhawatiran hal tersebut membuat stigma menjadi tua adalah hal yang tidak menyenangkan. Pada dasarnya Anda memang tidak dapat menghentikan usia Anda, tetapi yang dapat dilakukan adalah memperlambat penuaan dengan pilihan-pilihan yang tepat.

Misalnya, pemilihan pola makan, melakukan olahraga atau aktivitas yang aktif, menjalin hubungan sosial dengan teman sebagai hiburan, dan sebagainya. Hal tersebut nantinya akan berdampak pada seberapa cepat atau lambat penambahan dari usia tubuh Anda.

Melansir dari New York Times, Selasa (21/9/2021), para ahli merekomendasikan untuk tetap membaca, mencari tahu banyak hal untuk tetap produktif agar tubuh tetap bugar dan otak Anda tetap dimanfaatkan untuk selalu berpikir dan terjaga.

“Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu”, slogan tersebut sepertinya sudah menjadi umum untuk dijadikan motivasi memulai hal yang baru.

Faktanya memang benar, dengan memiliki motivasi yang tepat, itu akan membawa Anda untuk mencapai tujuan sesuai target yang ditentukan.

Oleh karena itu, ada beberapa cara agar Anda memasuki fase lansia dengan tubuh yang tetap sehat dan bugar.

Menurunkan Berat Badan

Ilustrasi Timbangan Berat Badan Credit: unsplash.com/iyunmai
Ilustrasi Timbangan Berat Badan Credit: unsplash.com/iyunmai

Perubahan kecil dalam hal berat badan memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan. Penelitian membuktikan bahwa kehilangan 5 persen dari berat badan dapat mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung.

Sementara itu, manfaat baiknya adalah meningkatkan fungsi metabolisme di hati, lemak, dan jaringan otot. Berarti, orang dengan berat sekitar 90,7 kilogram dapat menuai manfaat banyak dengan kehilangan 4,5 kilogram.

Meskipun demikian, kita semua ingin menurunkan berat badan sesuai dengan standar masing-masing. Padahal dengan mengurangi 5 persen saja dapat dijadikan sebagai langkah awal dan mempertahankan konsistensi dari berat badan yang Anda miliki sekarang.

Hindari Daging Olahan

Daging yang dijual di tempat makan cepat saji memiliki proses yang panjang sehingga tidak menyehatkan bagi tubuh. Ada proses pengasinan, pengawetan/pengasapan, penambahan cita rasa agar lebih gurih, dan peningkatan tingkat pengawetan.

Sejumlah penelitian menemukan, makanan-makanan serupa seperti daging sejenis dapat memberikan efek yang buruk bagi kesehatan. Selanjutnya, tinjauan dari Harvard menemukan bahwa makan 1 porsi daging olahan⎼bacon, sosis, daging deli (daging lembaran)⎼ memiliki risiko penyakit jantung 42 persen lebih tinggi dan risiko diabetes sebesar 19 persen.

Namun, tidak ada peningkatan risiko khusus makanan daging merah yang tidak diproses. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya wajar memakan daging merah (daging sapi), dengan syarat tidak melalui proses panjang dalam pembuatannya.

Penyebab daging olahan bukanlah terletak pada kandungan lemak jenuh/kolesterol, tetapi terletak pada kadar natrium/garam dan pengawet nitrat sebesar 50 persen lebih banyak dibandingkan yang tidak diproses.

Penelitian selanjutnya juga melibatkan bahwa konsumsi daging olahan memiliki risiko juga untuk terkena kanker usus.

Pola Makan Biru

Ilustrasi Buah Blueberry Credit: pexels.com/JessicaLewis
Ilustrasi Buah Blueberry Credit: pexels.com/JessicaLewis

Makan makanan yang berwarna biru, seperti buah blueberry. Manfaat dari konsumsi buat tersebut sangatlah banyak untuk kesehatan.

Sebuah ulasan mengenai kebiasaan makan orang pada umumnya, melibatkan 187 ribu petugas kesehatan pria dan wanita yang makan tiga porsi/lebih buah blueberry dalam seminggu memiliki 26 persen lebih rendah terkena risiko diabetes.

Selain itu, ada juga yang melakukan penelitian bahwa makan secangkir blueberry dalam sehari dapat menurunkan tekanan darah. Namun, alternatif lain yang Anda bisa lakukan adalah menambahkan buah dan sayuran berwarna gelap seperti blueberry, ceri, bayam, dan kangkung ke dalam makanan.

Nutrisi yang kaya akan serat dan karotenoid akan membuat Anda lebih cepat kenyang dan memilih untuk tidak mengonsumsi junk food sebagai makanan pilihan.

Hindari Makanan Kemasan

Strategi praktis yang dapat dilakukan untuk menghindari penuaan dini adalah tidak memilih makanan kemasan sebagai makanan pokok Anda.

Hal tersebut dapat jauh mengurangi konsumsi gula dalam tubuh. Lalu, bagaimana kita tahu jika makanan tersebut telah diproses? Jawabannya, yang dapat menjadi indikator suatu makanan baik/tidak memiliki ciri khas kemasan, yaitu yang harus dirobek sebelum dikonsumsi.

Ada banyak makanan yang memiliki jenis seperti itu, keripik, granola bar, pizza beku, junk food, makanan cepat saji, dan berbagai jenis makanan lainnya.

Namun, tetap saja ada pengecualian seperti kacang-kacangan, telur, minyak zaitun, susu, dan makanan sehat lainnya yang memiliki kemasan dengan cara penggunaan yang sama. Perbedaannya terletak pada penggunaan bahan makanan.

Jika terdapat banyak bahan yang dicampur untuk membuat sebuah makanan di sebuah kemasan, dapat dipastikan bahwa makanan tersebut adalah makanan kemasan. Cobalah untuk hidup dengan mengonsumsi makanan satu bahan.

Jenis konsumsi ini sama seperti diet Mediterania. Harvard Men’s Health Watch menawarkan panduan memulai cepat untuk diet Mediterania. Meskipun demikian, bila ada jenis diet yang Anda lebih suka, lakukan saja.

Baik itu diet vegan berdasarkan studi China, makan rendah karbohidrat yang dianjurkan oleh Atkins atau South Beach Diet, maupun rencana trendi seperti diet Whole 30. Semua diet ini didasarkan pada makanan utuh dan nyata yang tidak masuk paket.

Apakah Suplemen Dibutuhkan?

Ilustrasi menjadi tua. (Photo by Matthew Bennett on Unsplash)
Ilustrasi menjadi tua. (Photo by Matthew Bennett on Unsplash)

Minyak ikan adalah salah satu suplemen yang paling banyak digunakan untuk memerangi efek penuaan, tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa itu tidak bermanfaat.

Ada beberapa bukti bahwa vitamin B12 baik untuk otak yang sudah lebih tua, tetapi sebagian besar bukti menunjukkan bahwa kita mendapatkan cukup vitamin B12 dari makanan yang dikonsumsi.

Kantor Suplemen Diet National Institutes of Health menyuguhkan fakta tentang manfaat B12. Akhir-akhir ini, vitamin D menjadi populer, tetapi sekali lagi, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa kita perlu mengonsumsi lebih banyak.

Faktanya, laporan Institute of Medicine pada 2010 menemukan sangat sedikit orang yang kekurangan vitamin D dan percobaan acak tidak menemukan manfaat khusus bagi orang sehat untuk mengonsumsi vitamin D tambahan.

Saran terbaik tentang suplemen adalah berhemat pada uang yang Anda keluarkan untuk mereka berinvestasi dalam makanan sehat yang lezat bersama keluarga Anda dan orang-orang terkasih lainnya.

Semua hal itu cenderung memberikan dampak/manfaat yang lebih banyak untuk kesehatan emosional dan fisik Anda dibandingkan mengonsumsi suplemen.

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel