Ingin Tahu Mana Ikan Tersehat? Simak Penjelasan Menurut Ahli

·Bacaan 3 menit
Ilustrasi ikan salmon (Sumber: Pixabay/congerdesign)

Liputan6.com, Jakarta Makanan yang sehat adalah pilihan semua orang. Berbicara mengenai ikan, secara nutrisi seafood adalah kelompok makanan yang baik. “Sebagai sumber hewani, seafood memiliki jumlah lemak jenuh terendah dan mengandung nutrisi,” kata ahli gizi dan direktur di NYU Food Lab Lourdes Castro, seperti dikutip dari CNN, Senin (06/09/2021).

Selain menjadi protein tanpa lemak, makanan laut kaya akan vitamin D dan B serta mineral, seperti zat besi, kalium, dan kalsium.

Yang terpenting, makanan laut pun kaya akan asam lemak omega-3. Kandungan tersebut penting untuk penyusunan seluler tubuh manusia sehingga dapat membantu kesehatan jantung dan sistem kekebalan tubuh kita. Karena tubuh tidak mampu memproduksi omega-3 dengan sendirinya, asupan tersebut bisa diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.

Profesor ilmu makanan dan nutrisi manusia di University of Marine Ellen Camire mengatakan, seseorang yang diet biasanya tidak mengonsumsi omega-3. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan laut setidaknya dua kali seminggu adalah salah satu cara jitu untuk meningkatkan asupan asam lemak mendasar ini.

Ikan Paling Sehat adalah Salmon

Dari sudut pandang nutrisi, ikan salmon jelas paling sehat. “Ikan berlemak dai air dingin adalah sumber omega-3 yang lebih baik,” kata Camire. Dibanding ikan lain, salmon adalah rajanya omega-3, tambahnya.

The National Institute of Health pun merekomendasikan, laki-laki sebaiknya mengonsumsi 1,6 gram dan wanita 1,1 gram omega-3 setiap harinya.

Salmon Chinook Alaska, salmon Coho, dan salmon sockeye adalah tiga spesies salmon yang mengandung omega-3 tertinggi.

Lebih Baik Ikan yang Dibudidayakan atau Tidak?

Keberlanjutan adalah bagian lain untuk penilaian yang paling sehat. “Saat ini ada sumber yang ramah lingkungan, baik di sisi liar maupun pembudidayaan,” kata manajer sains senior di Seafood Watch di Monterey Bay Aquarium Santi Roberts.

Salmon yang dibudidayakan tidak hanya dikelola secara berkelanjutan, tetapi juga sangat memperhatikan kandungan omega-3. “Dari sudut pandang nutrisi, dulu ikan salmon yang tidak dibudidayakan lebih unggul dibanding yang dibudidayakan,” ujar Camire. Akan tetapi, Camire kemudian melanjutkan, dengan kemajuan akuakultur, pembudidayaan ikan dapat menyesuaikan pola makan salmon sehingga mampu menghasilkan ikan yang memiliki rasio omega-3 lebih tinggi dibanding ikan salmon yang tidak dibudidayakan.

Akuakultur berkelanjutan juga merupakan sara proaktif bagi perikanan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. “Tidak ada cukup ikan di lautan untuk memberi makan semua orang berdasarkan rekomendasi nutrisi untuk makanan laut,” kata Castro.

Kamire pun setuju. “Liar adalah ide yang seksi,” ujarnya. Namun, Kamire mempertanyakan bagaimana makanan laut liat dari Alaska akan bertahan selama beberapa dekade mendatang. “Dalam hal ini kita memberi makan miliaran orang dan iklim yang semakin panas, kita harus melakukan sesuatu yang berbeda,” lanjutnya.

Ikan Sehat Lainnya

Selain salmon, ada jenis makanan laut lain yang berkualitas baik dari segi kesehatan pribadi. Makanan laut tersebut jatuh kepada Bivalvis, seperti tiram, remis, dan kerang. Ketiganya mengandung omega-3 yang relatif tinggi sehingga merupakan pilihan yang baik dari perspektif lingkungan, menurut Roberts.

Tidak seperti ikan yang memiliki sirip, membudidayakan bivalvia tidak perlu dengan pakan. Sebab, mereka mengambil semua nutrisi dari air di tempatnya tinggal. Bahkan menurut Roberts, mereka bisa menyaring kotoran dan mengimbangi limbah yang masuk ke lingkungan.

Sementara itu, trout rainbow juga bisa dijadikan alternatif pengganti salmon, kata Camire. “Mereka tidak memiliki omega-3 sebanyak salmon, tetapi mereka terkait,” ujarnya.

Selain itu, tuna pun kaya akan asam lemak omega-3 dan merupakan pilihan yang unggul. Ikan tuna lebih baik diperoleh dari sumbernya secara berkelanjutan. Sebab, populasi tuna liar telah berkurang karena penangkapan ikan berlebihan dan ikan tersebut bisa mengandung merkuri yang tinggi.

Para ahli, baik nutrisi dan keberlanjutan, tidak berpikir harus menghindari mengonsumsi tuna. Akan tetapi, memang perlu penelitian untuk memastikan beberapa ikan lain. “Hindari bluefin sampai melihat peningkatan yang signifikan dalam pengelolaan populasi tersebut,” kata Roberts.

Jika ingin mengonsumsi tuna, cakalang dan albacore mengandung omega-3 yang hampir sama banyak dan merupakan dua spesies yang paling sering ditemukan dalam kaleng tuna.

Demikian pula dengan sarden dan makarel. Keduanya mengandung omega-3 yang tinggi. Akan tetapi, makanan ini tidak lagi direkomendasikan sebagai pilihan berkelanjutan karena kekhawatiran penangkapan ikan yang berlebihan untuk spesies ini.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel