Ini 7 Anak Milenial yang Bakal Dongkrak Perkembangan Teknologi Indonesia pada 2021

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Satu dekade belakangan ini perkembangan teknologi dan digital di Indonesia kian meroket. Pada 2018, program 1.000 startup dari pemerintah sudah menelurkan 525 startup.

Sementara seperti dikutip dari Antara, Rabu (26/1/2021), menurut Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi (MIKTI), jumlah startup di Indonesia pad 2018 sudah menembus 992.

Menkominfo John G Plate beberapa waktu lalu memaparkan, menurut laman Startup Ranking, Indonesia menduduki urutan nomor lima dunia dengan jumlah startup terbanyak, yakni 2.193 pada 2019.

Dan pada 2020, Indonesia sudah punya empat startup yang berstatus unicorn dan satu decacorn.

Hampir 70 persen dari startup yang berdiri dibangun oleh founder atau perintis anak muda berusia 25 hingga 38 tahun (masuk kategori generasi milenial/kelahiran 1981-1996)

Artinya, perkembangan teknologi Indonesia memiliki salah satu tumpuan penting pada talenta muda Tanah Air. Pada 2021, ada tujuh di antaranya yang patut diperhitungkan, karena memiliki potensi untuk mengakselerasi pertumbuhan teknologi di Indonesia.

Siapa sajakah mereka? Yuk, kita kenalan dengan mereka satu per satu.

1. Adi Arriansyah

Adi Arriansyah, founder dan CEO Sagara Technology
Adi Arriansyah, founder dan CEO Sagara Technology

Adi Arriansyah adalah seorang pengusaha teknologi asal Indonesia. Pemuda kelahiran Semarang berusia 30 tahun ini mendirikan PT. Sagara Asia Teknologi pada November 2014.

Dalam situs resmi Sagara, ia menyatakan bahwa perusahaan awalnya dibentuk sebagai kontribusi untuk Tanah Air di bidang teknologi.

Berawal dari sering mengerjakan proyek pembuatan software yang diberikan dosen saat kuliah di Telkom University, Adi akhirnya memutuskan untuk mendirikan Sagara. Dalam perjalanan karirnya, IA telah membantu ratusan klien dari berbagai korporasi dan startup yang berkontribusi cukup kuat di industri pengembangan teknologi Indonesia.

Adi melayani berbagai proyek software, mulai dari bank ke korporasi besar, startup ke UMKM, dan dari fintech sampai ke marketplace.

Adi juga merupakan lulusan dari program pelatihan Entrepreneur Founder Institute. Ia menempuh pendidikan Executive Education di Harvard Business School pada 2020.

2. Alamanda Shantika Santoso

Alamanda Shantika Santoso, Pendiri dan Presiden Direktur Binar Academy. Dok: Istimewa
Alamanda Shantika Santoso, Pendiri dan Presiden Direktur Binar Academy. Dok: Istimewa

Alamanda Shantika merupakan pendiri dan Presiden Direktur Binar Academy. Perempuan berusia 32 tahun ini dikenal sebagai eks Vice President of Product di Go-Jek.

Wanita lulusan Bina Nusantara ini sudah memakai teknik coding sejak berusia 14 tahun. Pada saat itu, ia sering membuat situs blog miliknya menggunakan teknik coding, di mana hal tersebut digunakan untuk bisa menampilkan warna dan bentuk di blog-nya.

Kepindahan dari Go-Jek mendorong Alamanda mewujudkan salah satu mimpinya, yaitu berharap Indonesia untuk go-digital.

Binar Academy adalah sebuah platform yang memfasilitasi perkembangan teknisi teknologi masa depan Indonesia melalui sekolah coding gratis untuk meningkatkan perkembangan programmer di Indonesia.

Setahun beroperasi, Binar Academy telah meluluskan 400 murid, di mana sekitar 70 orang saat ini bekerja di korporasi dan startup yang bekerja sama dengan Binar Academy.

Selain itu, Alamanda juga menganjurkan perempuan untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka bila tertarik untuk mulai berkarir di bidang teknologi, meskipun ia menyadari adanya isu bias gender.

3. Sofian Hadiwijaya

Sofian Hadiwijaya, Co-Founder dan CTO Warung Pintar. Dok: Istimewa
Sofian Hadiwijaya, Co-Founder dan CTO Warung Pintar. Dok: Istimewa

Sofian merupakan sosok yang cukup dikenal dalam dunia startup. Co-Founder dan CTO dari Warung Pintar ini sedari dulu punya misi untuk memberdayakan warung di Indonesia.

Salah satu alasan utamanya adalah Sofian merasakan banyak sekali proses yang tidak efisien ketika membantu berjualan di warung milik ayahnya.

Ia dan co-founder lainnya merasa bahwa tantangan yang dihadapi para pemilik warung dan UMKM ini bisa dimudahkan dengan teknologi.

Kuliah di jurusan teknik (elektro, kemudian industri), Sofian belajar coding dengan membantu temannya dari jurusan IT dalam mengerjakan tugas, serta menjadi asisten pengajar.

Berusia 31 tahun, Sofian melalui platform Warung Pintar telah membantu lebih dari 47 ribu warung di Indonesia untuk naik level.

Melalui teknologi Warung Pintar, semua proses dimulai dari inventaris, distribusi, transaksi, dan layanan warung menjadi terdigitalisasi.

Pada 2019, Warung Pintar mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 387,7 miliar dari OVO, SMDV, Vertex, Triputra dan beberapa investor lainnya.

4. Sharlini Eriza Putri

Sharlini Eriza Putri, CEO Nusantics. Dok: Istimewa
Sharlini Eriza Putri, CEO Nusantics. Dok: Istimewa

Wanita berusia 33 tahun ini ternyata telah memegang berbagai peran teknik industri sejak lulus pada 2009 dengan gelar sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sharlini Eriza Putri mendirikan Nusantics untuk menjual produk perawatan kulit dari bahan alami pada 2019. Ia meninggalkan pekerjaan hariannya untuk bekerja penuh waktu di Nusantics sebagai CEO.

Nusantics menghadirkan inovasi dalam produk gaya hidup bernilai tambah seperti perawatan kulit, perawatan pribadi, makanan, hingga minuman berbasis teknologi mikrobioma yang sustainable.

Baru-baru ini, perusahaan rintisan Putri berhasil mengembangkan dua test kit Covid-19 PCR dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi virus Corona.

Generasi pertama alat uji ini pun telah didistribusikan ke 19 provinsi di Tanah Air.

Ia juga merupakan peraih 6 Gelar Kehormatan dan Penghargaan yaitu Indonesian Government Scholarship Award, Visiting Lecturer ITB 2013, 1st Winner of NCE Awards 2012, NCE Awards 2011 (1st Winner), BEST Awards Business Excellence through Speed and Teamwork, dan Best Student Awards.

5. Andhika Sudarman

Andhika Sudarman, CEO & Founder Sejutacita. Dok: Istimewa
Andhika Sudarman, CEO & Founder Sejutacita. Dok: Istimewa

Andhika Putra Sudarman atau kerap dipanggil Andhika Sudarman, kelahiran Tanjung Pinang dengan usia 27 tahun, adalah seorang putra bangsa yang berhasil menjadi orang Indonesia pertama dalam sejarah yang terpilih sebagai pembicara dalam pidato wisuda Harvard Law School.

Andhika seorang pemuda yang menjadi satu-satunya lulusan dari Indonesia tahun ini di almamater mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Sekarang, Andhika aktif dalam pengembangan startup miliknya, Sejutacita.id, sebagai founder dan CEO.

Seiring dengan prestasinya, Sejutacita.id merupakan platform untuk menyediakan pendidikan inklusif, wadah untuk terinspirasi dan menginspirasi, serta mengintegrasikan layanan pendidikan lainnya yang masih sporadis.

Untuk ke depannya, Andhika berharap Sejutacita.id dapat menginspirasi generasi muda bahwa pendidikan bisa mengubah mimpi, menjadi pijakan paling kokoh untuk meniti tangga-tangga mimpi, dan sarana untuk bermetamorfosa menjadi versi terbaik diri.

6. Farid Naufal Aslam

Farid Naufal Aslam, CEO & Co-Founder Aruna. Dok: Istimewa
Farid Naufal Aslam, CEO & Co-Founder Aruna. Dok: Istimewa

Farid Naufal Aslam dengan usia 26 tahun saat ini telah menjabat sebagai CEO & Co-Founder Aruna (aruna.id).

Berawal dari memenangkan kompetisi ide bisnis saat menjalani semester-semester terakhir di Telkom University, Farid dan kedua pendiri Aruna lainnya, Indraka dan Utari, menuturkan biaya awalnya dari biaya sendiri.

Saat ini, mereka sudah mendapatkan dana dari beberapa investor untuk mematangkan business plan Aruna.

Aruna menjadikan laut sebagai mata pencaharian yang lebih baik bagi semua, dengan memberdayakan nelayan lokal melalui platform yang memfasilitasi perdagangan yang adil dengan pelanggan mereka.

Saat ini, Aruna telah beroperasi di seluruh Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, dengan memberdayakan lebih dari 15.000+ mitra nelayan di 31 titik dan membuka lebih banyak lapangan kerja di desa pesisir.

Hasil dari Aruna telah mendorong Farid untuk menjadi salah satu dari Forbes 30 under 30 Asia Class of 2020, bersama dengan Indraka dan Utari sebagai pendiri Aruna.

7. Nadia Amalia

Nadia Amalia, CEO dan Co-Founder Chat Alia. Dok: Istimewa
Nadia Amalia, CEO dan Co-Founder Chat Alia. Dok: Istimewa

Nadia Amalia yang merupakan lulusan finance dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) adalah CEO dan Co-Founder Chat Alia.

Selama studinya, wanita berumur 25 tahun ini menemukan sebanyak 60 persen orang Indonesia masih awam dalam mengatur keuangan pribadi mereka, terutama para Milenial Indonesia yang rata-rata melakukan overspend hingga 20 persen.

Pada tahun lalu, Nadia dan timnya menyadari betapa pentingnya masalah tersebut untuk diselesaikan. Hal ini mendukungnya untuk meluncurkan aplikasi Chat Alia di tahun 2021 ini, yang bertujuan untuk menyediakan platform manajemen keuangan pribadi pertama dengan menggunakan Artificial Intelligence.

Chat Alia menyediakan pelacakan anggaran otomatis dan rekomendasi keuangan yang dipersonalisasi berdasarkan data untuk membantu Milenial dan Gen Z mencapai tujuan keuangan mereka.