Ini Alasan Mahasiswa TI Kurang Minat Tekuni Keamanan Siber

Merdeka.com - Merdeka.com - Akbar Sidiq, mahasiswa Teknologi Informasi (TI) UIN Walisongo, mengaku bahwa dari 70 mahasiswa di angkatannya, hanya dirinya lah yang mengambil konsentrasi Cyber Security.

Hal ini tampaknya dapat menjadi bukti nyata dari hasil survei SecLab BDO Indonesia yang mengungkap bahwa hanya 1 dari 10 lulusan TI yang berminat menekuni bidang keamanan siber.

Akbar mengatakan, keputusannya menekuni bidang ini didorong oleh pandangan bahwa meski lebih sulit dipelajari, keamanan siber menawarkan prospek karir yang menjanjikan. Menurutnya, bidang ini akan sangat dibutuhkan oleh perusahaan maupun pemerintah di masa mendatang, sejalan dengan teknologi yang juga terus berkembang.

"Memang di Indonesia masih minim pengetahuan tentang ilmu cyber security, terutama soal keamanan data atau sistem lembaga, padahal kemanan siber sangat diperlukan dalam perkembangan teknologi," kata Akbar kepada Merdeka.com, Senin (3/10).

Sementara itu, mahasiswa jurusan Informatika Universitas Diponegoro, Alfian Putra mengungkap bahwa ia juga sempat tertarik menekuni keamanan siber, sebelum akhirnya memantapkan diri untuk mendalami Artificial Intelligence (AI). Menurut Fian, keamanan siber lebih rumit, mahal, dan kurang seru untuk dipelajari.

"Saya meninggalkan cyber security karena tidak menemukan keasyikan lagi dan merasa butuh waktu lama untuk mempelajarinya, sulit juga bersaing dengan orang-orang yang telah mulai lebih dulu secara otodidak," ujar Fian.

Senada dengan Fian dan Akbar, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya pun mengakui bahwa keamanan siber lebih rumit karena membutuhkan kemampuan analisa yang lebih mendalam. Alfons juga mengatakan, popularitas keamanan siber yang tidak setinggi programmer atau project manager membuat bidang ini sepi peminat.

"Dengan tingginya demand di bidang keamanan siber, harusnya perlahan minat ke sana akan makin tinggi. Tapi memang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai hal tersebut," kata Alfons.

Sebelumnya, berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), diketahui ada lebih dari 700 juta serangan siber yang terjadi di Indonesia pada tahun 2022. Baru-baru ini juga terjadi kebocoran data registrasi kartu SIM, di samping insiden-insiden besar sebelumnya yang melibatkan data kesehatan e-HAC, data kementerian, BUMN, hingga data pelanggan di e-commerce ternama.

Keith Douglas Trippie, Senior Cyber Security and Data Privacy Advisor BDO, mengatakan, serangan seringkali didasari motif finansial, sehingga institusi perbankan paling sering menjadi sasaran serangan siber. Namun demikian, ada banyak kasus keamanan siber global lain dengan motif yang berbeda, misalnya state sponsored attack terhadap SolarWinds, atau serangan rantai pasok yang menghantam Quanta, perusahaan yang menyuplai produk ke Apple, bahkan sasaran industrial negara dan sangat penting seperti Colonial Pipeline di Amerika.

"Dampak kerugian akibat serangan siber global diperkirakan mencapai USD 2 Kuintiliun di awal 2022 kemarin, meningkat jauh dari USD 400 Miliar Dolar AS di tahun 2015, dan kerugian dari ransomware saja bisa mencapai 265 Miliar Dolar AS di tahun 2031. Sudah saatnya perusahaan di Indonesia memperkokoh ketahanan sibernya di tahun ini, dan mempersenjatai diri dengan framework keamanan siber yang jelas agar tidak menjadi korban berikutnya," ungkap dia.

Reporter Magang: Dinda Khansa Berlian [faz]