Ini Alasan UMKM Indonesia Tak Laku di Pasar Ekspor

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia disebut-sebut tertinggal cukup jauh dalam kapasitas ekspor dari UMKM jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kementerian Koperasi dan UKM, Yulius membeberkan alasannya.

Staf Ahli Menteri Teten Masduki itu menuturkan ada sejumlah poin yang jadi perhatian sebagai penyebab minimnya kapasitas ekspor dari UMKM di Indonesia.

“Ada persoalan pembangunan lagi, ternyata ekspor kita masih sangat kecil bila dibandingkan dengan negara tetangga, kita masih kalah ekspor dengan Thailand dengan Malaysia. Ekspor UMKM lebih rendah lagi, kita baru 12-14 persen. itu kenapa ekspor turun itu tentu ada dua hal,” katanya, Jumat (7/1/2022).

Pertama, Yulius menilai, masih kurangnya kemampuan UMKM untuk melakukan ekspor. Misalnya, kata dia, ketika UMKM memiliki barang yang akan dijual, namun cara pengemasannya belum sesuai. Atau masalah cara pengiriman ekspor yang belum diketahui si pelaku usaha.

“Ini sebenarnya ada seolah logistik yang dibuat oleh Pos Indonesia, tapi kita banyak yang belum tahu juga, ini ada sekolah ekspor juga,” katanya.

“Ternyata cara mengekspor tidak bisa, kualitas tidak ada, sertifikasi tak kuat,” imbuhnya.

Kedua, terkait negara tujuan ekspor yang masih menyasar pasar konvensional. Ini berkaitan dengan pemahaman calon pengekspor akan melabuhkan produknya ke negara tujuan.

Market Intelligent, kita juga tidak tahu, kita masih mengirim sasaran ke pasar konvensional, belum cari daerah-daerah lain yang sebenarnya punya potensi luar biasa, kita tidak tahu,” kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tak Ada Kecocokan

Pemilik showroom dan bengkel Gitar
Pemilik showroom dan bengkel Gitar

Pada kesempatan yang sama, Yulius menyampaikan adanya ketidaksesuaian antara talenta yang dikeluarkan sekolah dengan yang dibutuhkan industri. Ini yang menurutnya jadi penyebab banyaknya jumlah pengangguran.

“Lulusan sekolah ini banyak yang menganggur, baik dari SMA, SMK dan Perguruan Tinggi, salah satu penyebab menganggurnya tejadi missmatch,” katanya.

“Tidak cocok apa yang dikeluarkan dulu oleh sekolah dan yang dibutuhkan industri, jadi sekolah ngajarin apa, ternyata industri bukan (yang dibutuhkan),” imbuh Yulius.

Ia turut melansir data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat terjadi 50 persen ketidakcocokan. Ia pun menyandingkan dengan besarnya anggaran pendidikan dari alokasi belanja negara.

“Bisa dibayangkan anggaran pendidikan 20 persen dari pengeluaran pemerintah, tapi (hasilnya) tak dibutuhkan masyarakan dan industri,” kata dia.

“Nah, salah satu solusinya adalah kita membuat match (kecocokan), salah satunya adalah program merdeka belajar, makanya, disini para mahasiswa dipersilakan untuk sekolah sesuai kebutuhan industri dan masyarakat,” terangnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel