Ini Alasannya Kita Sering Lupa tentang Sesuatu Hal

·Bacaan 3 menit

VIVA – Pasti teman teman semua sering tiba-tiba lupa dengan kegiatan apa yang akan kalian lakukan? Nah ternyata ini terjadi karena beberapa hal lho, ada yang dari perspektif ilmu psikologi dan perspektif Islam, yuk simak penjelasan berikut!!

Memori merupakan kumpulan informasi yang terbentuk dari apa yang ditangkap oleh panca indera kita. Orang mampu mengingat informasi yang didapat namun kadang dapat lupa apa yang telah didapatkannya tadi, misalnya seperti kita lupa menaruh barang yang baru saja kita letakkan, lupa akan melakukan suatu kegiatan, bahkan kita juga bisa lupa apa yang kita katakan sebelummya.

Nah sebelum itu, apa sih lupa itu? Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk mengungkapkan kembali informasi yang telah kita terima atau yang sudah kita pelajari.

Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988), mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal seseorang (Muhibbin Syah, 2008: 158).

Ternyata lupa menurut psikologi dapat di sebabkan oleh beberapa hal lho, berikut penjelasannya:

1. Mengalami Decay atau pemudaran informasi karena kita tidak pernah dengan sengaja mengulang informasi yang kita dapatkan sehingga informasinya memudar, tidak sampai diteruskan ke longterm memori.

Contohnya, habis pelajaran di kelas, tidak kalian ulang di rumah, tidak dipelajari kembali, maka informasinya akan memudar. Jadi kalau pas ujian bingung, lupa-lupa ingat mungkin kalian mengalami Decay

2. Mengalami interferensi atau tercampur baurnya berbagai informasi yang masuk dan disimpang di otak. Karena banyaknya informasi yang disimpan sehingga kadang kita kesulitan untuk mengingat dengan jelas, meskipun secara samar merasa ingatan itu ada.

Ingatan itu ibarat kita masuk ke perpustakaan besar yg di dalamnya ada rak rak berisi banyak buku. Kadang kita kesulitan mengambil. Bukan karena bukunya tidak ada tetapi lebih karena informasinya terlalu banyak.

3. Mengalami retrieval failure, informasi yang telah tersimpan menjadi sulit untuk diingat kembali bukanlah karena terlupa, namun karena muncul dalam bentuk yang distorted atau muncul dalam bentuk yang tidak tepat.

Ingatan jangka panjang menjadi distorted, karena ingatan kita berkembang sepanjang waktu semakin konsisten dengan skema yang kita miliki. Misalnya, kita telah memiliki konsep yang negatif mengenai seseorang, saat menceritakan seseorang tersebut kita hanya menceritakan hal-hal negatif saja.

Kita kesulitan untuk mengingat hal-hal positif mengenai orang tersebut karena skema kita dipenuhi oleh ingatan negatif mengenai orang tersebut.

4. Dengan sengaja melupakan, memang hal ini tidak bisa instan terjadi butuh proses yang lama. Informasi tersebut menjadi hilang karena memang sengaja dilupakan, karena menimbulkan dampak negatif ketika mengingatnya.

Misalnya, saat kita pernah mengalami kejadian yang sangat buruk dengan suatu peristiwa, maka kita akan berusaha melupakannya hingga peristiwa tersebut benar-benar terlupa dan sulit untuk diingat.

5. Lupa karena proses biologis yang terjadi, contoh mengalami kerusakan di otak karena kecelakaaan kemudian amnesia dan lain sebagainya. Sekarang sudah jelaskan bagaimana proses melupakan menurut perspektif ilmu psikologi, sekarang kita bahas mengenai lupa dalam perspektif Islam.

Lupa dalam perspektif Islam

Alquran menyinggung beberapa kali tentang lupa. Muhammad Utsman Najati (2005:338-341) merumuskan tiga makna lupa, yaitu:

a. Lupa yang terjadi dapat mengenai berbagai peristiwa, nama, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya. Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-A’la: 6, yang artinya: “Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,”

b. Lupa yang mengandung makna lalai. Sebagai contoh, seseorang yang lalai meninggalkan barang berharganya di suatu tempat, lalu ia baru ingat setelah beberapa lama kemudian, kalau benda tersebut ketinggalan di suatu tempat karena keasyikan berbicara dengan temannya.

Seperti kisah tentang murid Musa AS yang terdapat dalam Qs. Al-Kahfi ayat 63): “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya”

c. Lupa dengan pengertian hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal, seperti tersirat dalam surat At-Taubah ayat 67: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel