Ini Beda Minyak Goreng Kemasan Sederhana dengan Kemasan Premium

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan berencana menghapus peredaran minyak goreng curah. Sebagai gantinya, minyak goreng curah akan dikemas menjadi minyak goreng sederhana agar lebih praktis dan terjamin kebersihannya.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga menjelaskan, minyak goreng curah yang dikemas tidak akan mengalami proses yang sama dengan minyak goreng kemasan premium. Sebab peruntukannya berbeda dengan kemasan premium yang harus dibuat tetap cair meskipun disimpan di ruangan dengan suhu rendah.

"Jadi minyaknya akan sama dengan yang sekarang (curah) cuma akan dikemas dalam kemasan sederhana," kata Sahat saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (14/6).

Proses yang berbeda tersebut akan berpengaruh pada harga minyak goreng. Lantaran hanya dikemas dengan kemasan khusus, maka harga jualnya pun tetap terjangkau untuk masyarakat kelas bawah.

"Minyak goreng curah ini akan dikemas dengan kemasan khusus, kalau kita namakan minyak goreng pillow pad atau seperti bantal," kata dia.

Minyak goreng kemasan sederhana juga akan tetap beku jika disimpan pada suhu rendah. Namun hal ini bukan masalah besar karena nantinya peredarannya lebih banyak di pasar-pasar tradisional.

"Minyak goreng ini tidak perlu di ruangan ber-AC karena ini akan dijual di pasar-pasar," kata dia.

Terkait harga jual, minyak goreng kemasan sederhana ini akan dijual mendekati harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 14.000 per liter. Sehingga masyarakat kelas bawah tidak begitu terdampak dengan hilangnya minyak goreng curah di pasaran.

Sejarah Munculnya Minyak Goreng Curah

Pemerintah berencana menghapus minyak goreng curah secara bertahap lantaran dianggap kurang higienis. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung rencana pemerintah tersebut karena minyak goreng curah dianggap tidak praktis.

Ketua Umum GIMNI, Sahat Sinaga menceritakan, mulanya minyak goreng curah hanya dijual untuk masyarakat dengan jarak terdekat dari pabrik. Maksimal jaraknya hanya 20 kilometer.

Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan minyak goreng curah ini digemari masyarakat kelas bawah karena harganya yang murah. Terlebih sejak pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi pada minyak goreng curah.

"Minyak goreng curah ini dulunya hanya dijual di sekitar pabrik yang jaraknya 10-20 km, jarang yang jauh," kata Sahat kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (14/6).

Sahat menjelaskan distribusi minyak goreng curah sebenarnya kurang efektif. Sebab, dalam rantai distribusi peredaran minyak goreng curah pasti ada sekitar 5 persen hingga 7 persen minyak yang terbuang. Baik itu karena tumpah saat proses distribusi atau ketika perpindahan wadah minyak goreng kemasan dari distributor hingga ke tingkat konsumen.

"Pengalaman di lapangan ini ada lost-nya 5 sampai 7 persen. Belum lagi ada pekerjaan tambahan di lokasi, harus diciduk ke ember terus dibungkus plastik," kata dia.

Dalam proses tersebut setidaknya membutuhkan tambahan biaya hingga Rp 550 per liter minyak goreng curah. Jika saat ini harga minyak goreng curah Rp 19.000, maka potensi kerugian minyak goreng yang lost misalnya 6 persen, maka biaya yang keluarkan sekitar Rp 1.140. Sehingga jumlah kerugiannya bisa mencapai Rp 1.990 per liternya.

Sementara kata Sahat, biaya pengemasan minyak goreng curah hanya sekitar Rp 1.220. Hal ini menunjukkan pengemasan minyak goreng curah sebenarnya bisa menekan kerugian distribusi minyak goreng curah.

"Jadi sebenarnya sebagai bangsa ini kita kurang bijak jika mempertahankan minyak goreng curah," kata Sahat. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel