Ini Biang Kerok Tingginya Inflasi di Riau

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi XI DPR Marsiaman Saragih mengatakan, ekonomi di Riau tumbuh dengan baik, namun juga diiringi kenaikan inflasi yang tinggi. Hal ini disebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sudah lebih dulu naik, salah satunya harga BBM solar yang lebih dulu naik di pasar gelap.

"Ada beberapa hal yang dari sumber yang di lapangan yang mungkin membuat inflasi ini tinggi, sebelum bahan bakar tinggi di daerah Riau, Jambi, Sumatera Barat harga bahan bakar itu sudah naik di pasar gelap," kata Marsiaman dalam peluncuran gerakan pengendalian inflasi di Pangan di Riau, Senin (12/9).

Harga solar naik karena pasokan yang sedikit sehingga membuat masyarakat menjadi antre, khususnya supir truk dan lainnya. Jika mereka mengantre terlalu lama, hal itu akan berdampak pada muatan hasil bumi yang sedang dibawa, kemungkinan bisa busuk.

Maka, mereka para supir truk terpaksa membeli solar di pinggir jalan yang harganya jauh lebih mahal. Hal itu dilakukan, demi muatan hasil buminya tidak busuk dan bisa cepat didistribusikan.

"Kenapa naik di pasar gelap? Karena pasokan solarnya itu sedikit, jadi orang antre, sementara dia bawa hasil bumi Kalau kelamaan antre hasil bumi jadi busuk, akhirnya dia beli yang di pinggir jalan itu tentu harganya lebih tinggi nah itu ditimpakan ke hasil bumi yang dibawa sehingga naik harganya," ujarnya.

Padahal, jika proses kenaikan dilakukan secara bertahap maka ketika BBM naik, harga untuk komoditas pangan lainnya bisa menyesuaikan. Namun, karena kenaikan harga di Riau sudah berlangsung lama, tak heran jika harga-harga komoditas pangan juga naik, dan menyebabkan inflasi.

"Sebenarnya kalau itu lancar semua ndak ndak ada masalah sehingga begitu bahan bakar naik ya menyesuaikan. Tapi karena sudah lama terjadi ya itu mempengaruhi harga-harga. Mudah-mudahan ke depan hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi," ujarnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Provinsi Riau salah satu dari 5 provinsi yang inflasinya tertinggi di Indonesia. Kendati demikian, Gubernur Riau dan Bank Indonesia gerak cepat dan mampu menurunkan inflasi di Riau. Dia berharap Riau bisa termasuk 5 besar Provinsi yang inflasinya terkecil di Indonesia.

Berdasarkan BPS, adapun lima provinsi tertinggi inflasi di Indonesia periode Agustus 2022, kelimanya berasal dari Pulau Sumatera, yakni Provinsi Jambi 8,22 persen, Sumatera Barat (Sumbar) 8,01 persen, Bangka Belitung (Babel) 7,77 persen, Riau 7,04 persen, dan Aceh 6,69 persen.

"Dalam sambutannya Pak Jokowi dalam rakornas, seperti yang dijelaskan tadi Beliau ini termasuk 5 besar inflasi yang tertinggi. Tadi pak Gubernur ini dengan BI gerak cepat langsung, langsung dapat menekan sekarang sudah turun (inflasinya) mudah-mudahan nanti menjadi 5 besar tapi yang stabil atau rendah (inflasinya)," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]