Ini Bocoran Kesaksian 3 Tersangka Pembunuhan Brigadir J di Sidang Etik Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Tiga tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat dihadirkan bersama 12 saksi lainnya untuk memberikan keterangan di hadapan majelis hakim sidang pelanggaran etik Irjen Pol Ferdy Sambo, Kamis (25/8) lalu.

Mereka adalah, Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan asisten rumah tangga Sambo, Kuat Maruf. Di hadapan Ketua Hakim Kabaintelkam Komjen Ahmad Dofiri, mereka menjelaskan insiden penembakan yang terjadi di rumah dinas Ferdy Sambo yang terletak di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

"Yang pasti kan itu tiga saksi itu tersangka, apapun keterangan yang disampaikan itu terkait tindak pidana," kata Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Yusuf Warsyim saat dihubungi merdeka.com, Senin (29/8).

Yusuf menyebut ketiga tersangka itu menjelaskan terkait peristiwa yang terjadi di tempat kejadian, berujung tewasnya Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J. Namun kesaksian tersebut masuk dalam materi penyidikan sehingga tak bisa diungkapkan.

"Jadi karena yang bersangkutan sebagai tersangka tindak pidana pembunuhan jadi tentu tidak bisa kita ungkap," ucapnya.

"Tapi yang pasti memberikan keterangan yang sahih, BAP di rumah duren tiga apa yang terjadi, jam berapa masuknya, ngapain disitu, sampai terjadi peristiwa terjadinya penembakan. J komunikasi dengan FS seperti apa, posisi PC (Istri Sambo) seperti apa itu penjelasan seperti itu," sambungnya.

Penembakan Brigadir J Perintah Sambo

Yusuf yang hadir sebagai pengawas selama jalannya persidangan bersama Komisioner Pudji Hartanto Iskandar, dan Kepala Sekretariat Kompolnas Musa Tampubolon mengatakan secara umum para tersangka membenarkan jika penembakan itu terjadi atas perintah Ferdy Sambo.

"Itulah yang bisa saya sampaikan. Keterangan Kuat, RR, Bharada E itu secara umum seperti itu menjelaskan aktivitas yang ada di rumah itu. Menjelaskan apa yang disampaikan FS terhadap Bharada E untuk menembak," tuturnya.

Ketiga tersangka juga menggambarkan dengan jelas posisi mereka setelah Brigadir J tewas ditembak. "Terus apa yang dikatakan, Almarhum J. Di mana posisi Kuat sendiri, di mana posisi Bripka RR. Itu seperti itu, tapi secara detail apa yang dijelaskan terkait penembakan tentu tidak bisa bisa diungkap karena status mereka tersangka dan menjadi materi penyidikan," terangnya.

Adapun kesaksian Bharada E saat persidangan, Yusuf menilai tetap konsisten dan tidak berubah-ubah. Masih sama seperti keterangan terakhir yang dirilis Tim Khusus Polri bahwa penembakan itu atas perintah Ferdy Sambo.

"Teruntuk, keterangan Bharada E terkait tindak pidana pembunuhan itu sampai sejauh kemarin secara umum masih sama seperti keterangan kemarin. Bahwa dia diperintah untuk menembak," terangnya.

Walaupun begitu, Yusuf mengatakan pihaknya akan terus mengawasi terkait proses pengusutan kasus ini sampai tuntas. Termasuk ikut mengawasi apabila ada perubahan keterangan ke depannya.

"Tapi kan itu kemarin sidang kode etik kan, tapi tentu itu bisa berbeda ketika nanti di sidang umum kan. Ya kita harapkan dia tidak berubah lagi, jadi posisinya masih sama seperti apa yang disampaikan pak kapolri, pada saat menetapkan FS sebagai tersangka," terangnya.

"Bagaimana keterangan Bharada E itu dalam konstruksi peristiwanya itu bukan tembak menembak, tapi menembak yang itu diperintahkan atas perintah," tambah dia.

Sebagai informasi, 15 saksi yang dihadirkan dalam persidangan terbagi menjadi tiga berdasarkan tempat penahanan yakni; Saksi yang ditempatkan khusus di Mako Brimob: 1. Brigjen Hendra Kurniawan 2. Brigjen Benny Ali 3. Kombes Agus Nurpatria 4. Kombes Susanto 5. Kombes Budhi Herdi.

Kemudian saksi dari tempat khusus Provos Polri: 1. AKBP Ridwan Soplanit 2. AKBP Arif Rahman 3. AKBP Arif Cahya 4. Kompol Chuk Putranto 5. AKP Rifaizal Samual

Lalu, mereka yang ditempatkan khusus Bareskrim: 1. Bripka Ricky Rizal 2. Kuat Maruf 3. Bharada Richard Eliezer. Sementara Dua saksi lainnya berada di luar tempat khusus mereka adalah HM dan MB.

Ferdy Sambo Ajukan Banding

Sidang kode etik Irjen Ferdy Sambo atas pembunuhan Brigadir J memvonis Pemecatan Tidak Dengan Hormat (PTDH). Namun Ferdy Sambo tak terima dengan keputusan tersebut dan mengajukan banding.

"Kami mengakui semua perbuatan dan menyesali semua perbuatan yang kami telah lakukan terhadap institusi Polri, namun mohon izin sesuai Pasal 69 PP (Perpol) 7 tahun 2022, izinkan kami mengajukan banding," kata Ferdy Sambo saat menanggapi putusan Sidang Kode Etik, Jumat (26/8) dini hari.

"Apapun keputusan banding, kami siap laksanakan," ucap Sambo dengan tegas.

Sebelumnya, Komisi Kode Etik Polri (KKEP) merampungkan pemeriksaan terhadap mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo terkait dugaan pelanggaran etik kasus kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat. Hasil sidang etik memutuskan Ferdy Sambo melakukan pelanggaran berat sehingga dipecat sebagai anggota Polri.

"Pemberhentian dengan tidak hormat atau pdth sebagai anggota Polri," kata Kabaintelkam Polri Komjen Ahmad Dofiri selaku pimpinan sidang saat membacakan putusan di gedung Transnational Crime Center (TNCC) Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/8) dini hari. [tin]