"Ini Bukan Revolusi, Menumpahkan Darah Itu Haram"

Merdeka.com - Merdeka.com - Tokoh berpengaruh Irak Muqtada al-Sadr memerintahkan para pendukungnya untuk menghentikan unjuk rasa di Baghdad yang telah menewaskan 30 orang. Dia juga menyampaikan permohonan maaf atas kerusuhan yang terjadi.

"Ini bukanlah revolusi karena sifat damainya hilang. Menumpahkan darah orang Irak itu haram," kata dia, seperti dilansir laman Reuters, Selasa (30/8).

Pernyataan itu disebarkan melalui televisi. Dia turut menyerukan agar pengikutnya meninggalkan zona hijau (kawasan kompleks pemerintahan dan kedutaan) dan mundur dari gedung parlemen.

Al-Sadr juga mengatakan "Dalam 60 menit, jika gerakan Sadrist (pendukungnya) tidak mundur, termasuk dari semua yang di parlemen, maka saya akan meninggalkan gerakan ini".

Pergerakan pengikut al-Sadr menunjukkan akan sulitnya angkatan bersenjata Irak untuk mengatur kerusuhan itu.

Salah satu pejabat Irak, tanpa mengungkapkan nama, mengatakan "pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan ini, karena angkatan bersenjata terbagi menjadi loyalis Iran dan pengikut gerakan Sadrist".

Kerusuhan di Irak terjadi karena ketidakstabilan politik, di mana faksi al-Sadr memenangi kursi parlemen terbanyak dan ingin membentuk pemerintahan baru yang bebas dari pengaruh Iran dan Amerika Serikat (AS).

Namun keinginan itu gagal dicapai dan al-Sadr menyatakan akan mengundurkan diri.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]