Ini Bukti Anas Tidak Mencicil Toyota Harrier

TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, berkukuh bahwa kliennya tak akan bisa dijerat dengan perkara gratifikasi Toyota Harrier seperti yang diungkapkan pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi. Firman mengatakan kliennya tak terlibat dalam kasus Hambalang. Menurut Firman, Harrier itu dibeli Anas sebelum menjadi anggota DPR pada 2009 dengan cara mencicil.

"Harrier itu bukan gratifikasi. Semua bukti cicilan sudah kami serahkan ke KPK." Dengan keyakinan itulah kubu Anas sangat percaya diri terhadap nasibnya di ranah hukum maupun di kubu Partai Demokrat. Sampai-sampai Anas berkata pidato SBY sudah jelas top

Benarkah omongan Firman?  Laporan Utama Tempo pekan ini: Buruk Muka Anas justru menunjukkan hal sebaliknya. Setahun sebelum proyek Hambalang ditenderkan pada September-Oktober 2010, PT Adhi Karya sudah menebar mahar. Pada September 2009, Adhi Karya diduga memberikan duit kepada Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam lewat seorang pengusaha yang kerap menggarap proyek di Kementerian. Duit itu diserahkan dua kali, masing-masing Rp 1 miliar. Menurut seorang sumber, permintaan duit disertai kalimat, "Untuk menalangi kebutuhan Pak Sesmen."

Muhammad Nazaruddin dengan perusahaannya di bawah payung Grup Permai juga mengincar Hambalang, yang saat itu masih dalam tahap perencanaan. Mindo Rosalina Manulang, anak buah Nazaruddin, bolak-balik bertemu dengan petinggi Adhi Karya memberitahukan niat bosnya. Belum diketahui motif persisnya ”apakah untuk membeli 'pengaruh' Anas” Adhi Karya juga disangka menyetorkan Rp 1 miliar kepada Grup Permai. Melihat mahar yang telah ditebar untuk Kementerian, pemberian uang ini pun tidak aneh.

Ketika itu, Anas baru saja terpilih sebagai anggota DPR dari Demokrat, partai pemenang pemilihan umum, tapi belum dilantik. Ia juga pernah tercatat sebagai salah seorang pemegang saham PT Anugrah Nusantara, yang berada di bawah Grup Permai. Salah seorang direktur PT Anugrah, Marisi Matondang, mengaku menerima Rp 1 miliar dari Adhi Karya pada 8 September 2009.

Pada 12 September, Nazaruddin membelikan Anas mobil dari uang itu. Ia menerbitkan cek bernomor EP 677964 atas nama PT Pacific Putra Metropolitan sebesar Rp 520 juta. Cek itu bersumber dari rekening PT Pacific bernomor 103-000-52220-68 di Bank Mandiri Cabang Sabang, Jakarta. Tiga hari kemudian, pada 15 September, cek itu diserahkan Neneng Sri Wahyuni, istri Nazar, kepada Yulianis, Direktur Keuangan Grup Permai.

Neneng juga meminta Yulianis merogoh Rp 150 juta dari brankas perusahaan. "Untuk membeli Harrier," kata Neneng seperti ditirukan Yulianis, Jumat pekan lalu. Oleh Yulianis, duit tunai plus cek itu diteruskan kepada Muhajiddin Nur Hasyim, adik Nazaruddin. Pada 17 September, cek itu dicairkan dan, bersama duit tunai Rp 150 juta, ditransfer ke rekening BCA Hadi Wijaya, pemilik Duta Motor, dealer mobil di Pecenongan, Jakarta.

Pengirim duit itu karyawan Nazaruddin bernama Clara. Pada slip transfer tertulis maksud transaksi: pembayaran mobil. Dalam faktur pembelian mobil yang kelak berpelat nomor B-15-AUD, tertulis pemiliknya Anas Urbaningrum. Tanggal dalam faktur: 19 Oktober 2009. Pada tanggal itu, Anas sudah resmi menjadi penyelenggara negara. Ia dilantik sebagai anggota DPR sekaligus Ketua Fraksi Demokrat pada 1 Oktober.

Inilah yang mengunci Anas. Kepolisian Daerah Metro Jaya membenarkan mobil itu pernah dimiliki Anas meski pada 14 Juli 2010 pelatnya berganti jadi B-2170-H. Keterangan yang belum klop adalah soal asal-usul duit yang digunakan untuk membeli mobil. Di ujung perkara, ia tak bisa berkelit pernah menerima Harrier.

KPK hakkul yakin Anas bakal terjerat. Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas mengatakan. soal Anas dan Toyota Harrier "Percaya saja pada perhitungan penguasa langit."

ANTON SEPTIAN | TRI SUHARMAN | ARYANI KRISTANTI

Berita Terpopuler Lainnya

Ahok Ajarkan Dobrak Pintu Rusun Marunda

Tujuh Partai Bergabung dengan PAN

Isak Tangis Warnai Ulang Tahun Raffi Ahmad

Sebab Meteor Rusia Tak Terdeteksi

Anas : Pidato SBY Sudah Jelas Top

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.