Ini Hasil Kesepakatan Dunia di Pertemuan FMCBG Ketiga Bali

Merdeka.com - Merdeka.com - Dalam rangka merespon ancaman krisis pangan, para menteri keuangan negara anggota G20 sepakat untuk melakukan upaya kolaborasi untuk menangani masalah ini.

"Semua menteri keuangan sepakat masalah ketahanan pangan atau ketidak tahanan pangan butuh satu intervensi," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers hasil Pertemuan Finance Ministers & Central Bank Governors (FMCBG) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) 1, Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7).

Menteri Sri Mulyani mengatakan anggota G20 akan melakukan koreksi terhadap gangguan rantai pasok dan segera mengatasinya. Perlu ada kebijakan bersama untuk memfasilitasi distribusi pangan dari sektor produksi ke negara yang membutuhkan.

"Kita harus fasilitasi alur pangan dari sektor produksi ke negara lain yang membutuhkan. Ini sinyal yang kuat buat kita mengatasi (masalah pangan)," kata dia.

Selain itu, masalah pangan ini juga juga disebabkan oleh kelangkaan pupuk. Sehingga muncul berbagai inisiatif dari para delegasi asing dan lembaga internasional untuk mengatasi hal ini.

"Kita juga perlu tingkatkan koordinasi kekurangan pupuk. Kita koleksi apa saja inisiatif dari berbagai negara aada lembaga internasional," kata dia.

Salah satu usulannya mendukung upaya negara-negara yang kekurangan dana untuk mengimpor pupuk dan bahan pangan.

"Khususnya kalau mereka enggak punya uang buat impro di saat sulit dapat ditingkatkan buat ketahanan pangan, dalam bentuk pupuk, buat pertanian," jelasnya.

Dana Penanganan Pandemi di Masa Depan

pandemi di masa depan
pandemi di masa depan.jpg

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan seluruh negara anggota G20 menyepakati berbagai inisiatif yang disajikan dalam forum. Khususnya mengenai dana penanganan pandemi kedepannya.

Dengan disepakatinya inisiatif tersebut, dana yang berhasil dikumpulkan sejumlah USD 1,28 miliar. Dana itu dikumpulkan dalam Financial Intermediary Forum (FIF) untuk Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Respon terhadap pandemi.

"Beberapa negara siap untuk mendukung dalam pertemuan ini, dan dalam hal ini mereka secara aktif akan memberikan kontribusi, kita sudah kumpulkan komitmen kurang lebih USD 1,28 miliar untuk diamankan dalam FIF," katanya.

Dia menyebutkan sejumlah negara yang telah menyatakan komitmen untuk berkontribusi diantaranya adalah Amerika Serikat, Eropa, Jerman, Indonesia, Singapura, Inggris. Dan beberapa organisasi filantropi seperti Welcome Trust, dan Melinda and Gates Foundation.

"Dan beberapa negara ayng menyampaikan keinginan mereka akan memberikan kontribusi, diantaranya ada Italia, China, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea," katanya.

Dia menyebut, Bank Dunia juga telah menyepakati untuk melanjutkan tahap pembentukan FIF ini ke langkah berikutnya yang dibutuhkan. Misalnya dengan membentuk gugus tugas bersama dengan Indonesia dan Italia.

"Kita kerja sama dengan World Bank dan WHO untuk finalisasi desain FIF ini kedepan termasuk operasionalnya, sekaligus juga mengembangkan koordinasi keuangan dan pengaturan kesehatan untuk pendanaan pandemi," terangnya.

Dia menyebut, ini jadi bukti komitmen dari negara G20 dalam menangani masalah ekonomi global. Tujuannya untuk mempertahankan kemampuan fiskal jangka panjang. "Isu kesehatan in menjadi penting karena kita dalam dua tahun mengalami pandemi," katanya.

"Persiapan pandemi dan penanganan pandemi akan mempersiapkan koordinasi pendanaan yang bisa dialksanakan pasca pemulihan ekonomi," tambahnya.

Menkeu mengatakan ini jadi salah satu agenda prioritas G20. Sebelumnya, bersama yang dibahas dengan Menkeu China Liu, Sri Mulyani membahas diantaranya mengenai tantangan global yang tengah dihadapi dunia seperti inflasi, krisis pangan, dan krisis energi, sebagai akibat dari pandemi.

"Presidensi G20 Indonesia telah mendorong mekanisme Dana Perantara Keuangan (Financial Intermediary Fund/FIF) untuk penanganan kesehatan di bawah pengelolaan Bank Dunia, di mana WHO juga akan memegang peranan penting dalam mekanisme ini. Maka dari itu, kami mengharapkan dukungan Tiongkok atas FIF agar dunia dapat lebih siap menghadapi situasi pandemi di masa depan. Indonesia telah menyumbang USD 50 juta untuk menunjukkan kepemimpinan dan keseriusan Indonesia dalam penanganan pandemi yang lebih baik," tuturnya.

Finance Track G20

g20
g20.png

Selain pertemuan bilateral, Presidensi G20 Indonesia finance track juga menggelar Taklimat Media secara hybrid untuk memaparkan persiapan penyelenggaraan 3rd Finance and Central Bank Deputies Meeting (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governor Meeting (FMCBG) yang diadakan pada tanggal 13-16 Juli mendatang. Selain pertemuan FCBD dan FMCBG, Presidensi G20 akan melakukan serangkaian side events dari 11 hingga 17 Juli 2022.

Hadir sebagai narasumber Taklimat Media, Dian Lestari, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral (PKPPIM), Kementerian Keuangan, Nella Sri Hendriyetty Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) Kementerian Keuangan, serta Iss Savitri Hafid, Direktur Departemen Internasional, Bank Indonesia untuk memberikan pemaparan mengenai beberapa poin pembahasan, termasuk agenda pembahasan serta kegiatan jalur keuangan 3rd FCBD dan 3rd FMCBG Meeting.

Pada kesempatan ini, narasumber juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam penyelenggaraan Presidensi G20, serta rangkaian pertemuan FCBD, FMCBG, dan side events.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6

[bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel