Ini Kunci Sukses Kembangkan Bisnis di Era Pandemi

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Di tengah tantangan besar yang ditimbulkan pandemi virus corona atau COVID-19 terhadap dunia usaha, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap adaptif dan inovatif. Mereka menjalin kolaborasi dan mengandalkan teknologi digital untuk memasarkan produk-produk yang berbasis kearifan lokal.

Denden Sofiudin, seorang pemilik usaha kopi di Temanggung, membuktikan sendiri strategi tersebut untuk mengembangkan bisnis yang telah dirintis sejak 2015. Dia mendirikan Rumah Kopi Temanggung guna memfasilitasi hasil panen kopi dan tembakau dari para petani lokal.

"Dari sisi teknis, saya awalnya tidak memiliki pengetahuan dasar tentang kopi. Namun, saya berpengalaman dalam dunia digital. Jadi, saya mencoba menawarkan kopi lokal Temanggung secara online, dan ternyata respons pasar bagus," ujarnya dalam webinar yang diadakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dengan tema Pandemi dan Peluang Bisnis Berbasis Kearifan Lokal, baru-baru ini.

Setelah sukses, Denden mengajak beberapa temannya untuk melakukan hal yang sama. Dia bahkan turun tangan untuk mengajari teman-temannya tentang pemanfaatan teknologi digital yang kini banyak tersedia secara gratis atau tidak berbayar.

"Saya membuat sejumlah titik koordinat untuk mereka di Google Maps, dengan kata kunci 'Kopi Temanggung'. Harapannya, siapa pun yang melintasi Temanggung tertarik untuk mencicipinya, dan calon konsumen cukup mencari lokasi penjual di Google Maps, lalu memilih penjual kopi yang sesuai dengan seleranya," ujar dia.

Upayanya untuk memasarkan kopi secara online lantas berbuah manis meski di tengah pandemi. Menurut pengakuan Denden, nyaris seluruh penjualan Rumah Kopi Temanggung dilakukan di kanal online.

"Distribusi dan 95 persen penjualan Rumah Kopi Temanggung berasal dari kanal online," ujar Denden.

Satya Bilal, Wakil Sekjen International Council for Small Business, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan, pelaku UMKM jangan hanya berkutat dengan pemasaran digital. Mereka juga perlu mengasah beberapa keahlian lain.

Pertama, mencari dan menambah akses keuangan (pinjaman atau modal), kedua, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (karyawan), ketiga, berkolaborasi, keempat, berinovasi, serta kelima membuat laporan keuangan secara profesional.

"Pelaku UMKM harus menjadi pebisnis yang lebih profesional. Mereka juga perlu mengasah insting bisnis. Kalau sebelumnya kita merasa puas dengan memperoleh dana Rp100 rupiah, kita harus mampu mencapai lebih dari itu. Adaptasi bisnis harus selalu dilakukan agar kita bisa bertahan di tengah pandemi. Penggunaan anggaran pun harus tepat sasaran," tutur Satya.

Ia menambahkan, "Banyak sekali sektor-sektor ekonomi kreatif yang berkembang. Di Indonesia Timur, misalnya, kita memiliki begitu banyak satwa-satwa air, dan bisnis aquascape pun bermunculan di saat pandemi. Banyak UMKM yang sebetulnya berkembang, dan ada merek lokal, Sociolla, setelah dirintis selama lima tahun, berhasil berekspansi hingga ke Vietnam.”

Dengan kekayaan budaya lokal dan potensi daerah di Indonesia, peluang bisnis masih terbuka luas bagi para pelaku UMKM. Penguasaan teknologi digital dan kepiawaian mengelola bisnis merupakan dua aspek yang menjadi kunci sukses untuk mengembangkan bisnis di era pandemi.