Ini Merek Obat Produksi 2 Perusahaan Farmasi Pelanggar Pidana Kasus Gagal Ginjal Akut

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik empat jenis produk obat diproduksi PT Yarindo Farmatama dan PT Universal Pharmaceutical Industries. Penarikan produk obat itu setelah kedua perusahaan farmasi tersebut terbukti melanggar administratif dan pidana dalam memproduksi obat sirop hingga terindikasi menyebabkan kasus gagal ginjal akut pada anak.

"Satu produk bernama Flurin DMP Syrup dari PT Yarindo Farmatama dan 3 produk dari universal yaitu Uni Baby Demam sirup, Uni Baby Demam Drugs, Uni Baby Cough Syrup. Ini (empat produk) sudah dikenakan penindakan pidana," kata Kepala BPOM Penny Lukito saat jumpa pers di Jakarta, Senin (31/10).

Penny mengatakan, hasil penelusuran BPOM, dua perusahaan tersebut mengubah bahan baku kandungan obat-obat yang diproduksi tersebut. Bahan baku digunakan tidak memenuhi syarat dengan cemaran EG di atas batas aman sehingga produk tidak memenuhi persyaratan.

Selain itu, menurut Penny, dua perusahaan farmasi ini juga tidak melaporkan kepada pihak BPOM bila mengubah bahan baku obat yang diproduksi.

"Tidak melakukan kualifikasi suplier dan tidak melakukan pengujian sendiri bahan baku digunakan. (Bahkan) Flurin DMP Syrup (produk milik PT Yarindo Farmatama) terbukti menggunakan bahan baku propilen glikol mengandung etilen glikol sebesar 48 miligram per mililiter di mana syaratnya harus kurang dari 0,1 jadi ada 100 kalinya, bayangkan," kata Penny.

Pasal Disangkakan

Penny menegaskan perbuatan kedua perusahaan farmasi itu ditemukan unsur pidana lantaran memproduksi atau mengedarkan ketersediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau persyaratan keamanan, khasiat dan mutu. Kedua perusahaan itu dapat dijerat pidana sesuai Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, yaitu pasal 96 dan 98 ayat 2 dan 3 dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Kedua perusahaan itu juga ditambahkan Penny dapat dijerat Undang-Undang nomor 8 tentang perlindungan konsumen Pasal 62 ayat 1 tahun 2018 lantaran memperdagangkan barang yang tidak sesuai standar dan syarat ketentuan dan terancam pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.

"Jika penelusuran Bareskrim Polri menemukan kaitan kedua perusahan farmasi tersebut dengan ancaman kematian ditimbulkan dari produk tersebut, maka pasal disangkakan juga akan dikaitkan dengan pidana lainnya," kata Penny.

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono/Liputan6.com [gil]