Ini Modus Korupsi di DPR

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti senior dari Indonesia Budget Center, Roy Salam, mengatakan bahwa perilaku korupsi di Dewan Perwakilan Rakyat sulit dideteksi. Namun secara umum, menurut dia, modusnya hampir seragam.

Pertama, menurut dia, dalam penentuan pendapatan negara, ada trik menurunkan pendapatan dari sumber-sumber pendapatan negara, terutama di perusahaan yang berafiliasi partai politik. »Misalnya menurunkan pajak atau target penerimaan negara. Itu hingga kini masih jadi tren,”  kata dia ketika dihubungi, Kamis, 3 Januari 2012.

Modus selanjutnya adalah penggelembungan nilai proyek. Di sini terlihat usaha DPR menaikkan anggaran, yang biasanya berujung gratifikasi. »Gratifikasi muncul karena ada keberhasilan upaya dari pelaku yang menaikkan nilai anggaran. Kemudian ketika penggelembungan sudah tak rasional, uangnya akan dibagi-bagi kepada siapa pun yang berperan,” katanya.

Bancakan anggaran tak hanya di DPR, tetapi juga terjadi di kalangan eksekutif. »Misalnya kasus korupsi Hambalang. Itu tak lepas dari peran eksekutif dan peran legislatif,”  ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Banggar DPR Ahmadi Noor Supit mengatakan perilaku korupsi di parlemen bukan salah lembaga, tetapi lebih karena perilaku individu yang memiliki niat menyelewengkan anggaran. "Bukan mekanisme yang menjadi masalah," kata politikus Partai Golkar itu.

Di lain pihak, Laporan Akhir Tahun Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) 2012 menyatakan 42,71 persen anggota legislatif periode 2009-2014 melakukan transaksi mencurigakan dengan indikasi tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana korupsi.

MUHAMAD RIZKI | WAYAN AGUS PURNOMO

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.