Ini modus mantan pesepakbola asing tipu pendeta lewat Facebook

MERDEKA.COM. Kamara Kelvin (28), mantan pemain asing Persatuan Sepakbola Pekanbaru dan Sekitarnya (PSPS) asal Sierra Leone, dan dua rekannya berhasil menipu pendeta dan jemaat gereja di Medan dengan modus menawarkan sumbangan. Mereka memanfaatkan prosedur di bandara untuk menipu korbannya.

Penipuan ini dimulai dari perkenalan otak pelaku, Papson (DPO) yang mengaku bernama Ivan Smith dengan dengan Pdt Dame Saulina Lumban Gaol di jejaring sosial Facebook. Saat itu, Ivan mengaku sebagai tentara Inggris yang bertugas di Irak.

Dalam pertemanan ini, Ivan meminta pelayanan rohani dari Pdt Dame. Sekitar sebulan berkomunikasi intens melalui Facebook, pada 21 Mei 2013, Ivan mengatakan mendapat deposito penghargaan selama bertugas di Irak sebesar USD 3 juta.

Dari dana itu, dia menyatakan ingin memberi persembahan USD 1 juta untuk membantu pelayanan gereja. Uang itu akan dikirim melalui paket parsel yang akan diantarkan seorang diplomat bernama Jacob Liaz.

Pada 27 Mei 2013, Jacob Liaz yang diperankan Kamara Kelvin kemudian menghubungi Pdt Dame dan mengatakan sudah tiba di Indonesia dan akan mengikuti otoritas Diplomat Airport di Bandara Soekarno Hatta. Kemudian Ivan menghubungi Pdt Dame dan menyatakan bahwa Jacob tidak diizinkan keluar bandara sebelum membayar Rp 70 juta sebagai syarat pengeluaran parsel.

Singkat cerita, Pdt Dame mengupayakan dana Rp 70 juta. Dia menghubungi seorang jemaat, Edward Pandiangan, untuk mengirimkannya ke rekening atas nama Henny Amel (diperankan Nina Safitri), yang disebut Jacob sebagai petugas bandara.

Setelah uang dikirim, Jacob kembali mengirim SMS yang menyatakan pihak bandara meminta uang Rp 220 juta agar parsel dipasangi pita kuning penanda milik diplomat.

Pdt Dame sempat menghubungi kenalannya, ternyata aturannya memang seperti itu. Dia pun kembali menghubungi Edward untuk mengirimkan Rp 220 juta ke rekening yang disebut Jacob.

Petang harinya, Ivan mengirimkan email kepada Pdt Dame yang isinya menyatakan kiriman distop karena tidak memiliki sertifikat antiteroris dan harus diurus dengan biaya USD 49.900.

Pdt Dame pun mulai curiga dan akhirnya sadar sudah ditipu. Dia dan Edward pun akhirnya mengadu ke polisi. Selanjutnya, polisi menyelidiki kasus ini.

Keberadaan pelaku terdeteksi dari telepon selularnya. Akhirnya, Kamara Kelvin dan Nina Safitri pun dibekuk, Jumat (7/6).

"Pelaku dijerat dengan Pasal 378 KUHP jo 55, 56 KUHP dengan ancaman hukuman minimal 7 tahun penjara," jelas Wakapolresta Medan AKBP Pranyoto.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.