Ini Penjelasan Kemensos Terkait Sosok Pengemis yang Ditemui Risma

·Bacaan 3 menit
Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Risma menyapa tunawisma di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, sebelum bekerja. (dok Humas Kementerian Sosial)

Liputan6.com, Jakarta - Aksi blusukan Menteri Sosial Tri Rismaharini menjadi sorotan berbagai pihak. Foto-foto dan video Risma saat blusukan juga viral di media sosial. Warganet bahkan mencari tahu sosok tunawisma dan pengemis yang ditemui Risma.

Humas Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Kementerian Sosial, Fathonah menceritakan aksi blusukan yang dilakukan Risma sejak hari pertama ia menjabat, 28 Desember 2020 lalu. Fathonah mengungkapkan, setiap pagi sebelum berangkat kerja, Risma selalu menemui para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di sekitar rumah dinasnya di kawasan Jakarta Pusat.

"Yang pasti, setiap Ibu Risma keluar dari rumah, Beliau pasti akan singgah atau mengobrol dulu sebentar sama beberapa tunawisma yang tidurnya di pinggir-pinggir jalan," kata Fathonah saat dihubungi merdeka.com, Rabu (6/1/2021).

Pada 28 Desember 2020 lalu, Risma meninjau kolong jembatan yang menjadi tempat tinggal tunawisma di kawasan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.

Lalu pada Rabu 30 Desember 2020, Risma blusukan lagi menemui sekelompok warga yang tinggal di bawah tol Gedong Panjang, Pluit, Jakarta Utara.

Pada 4 Januari 2021, Risma bertemu dengan sejumlah gelandangan di Jalan Sudirman-Thamrin. Yang terbaru, pada Rabu pagi, 6 Januari 2021, Risma beserta jajarannya kembali melakukan blusukan di dekat rumah tinggalnya.

"Hari ini, kita bawa 3 orang ke kantor. Sudah mandi, ganti pakaian, dan dites swab. Nah pas mau diskusi sama mereka, Ibu Risma ada ratas (rapat tebatas) dengan Pak Presiden. Padahal niatnya hari ini mereka bertiga mau dibawa ke Balai di Bekasi hari ini," ujar Fathonah.

Rencananya, ketiga PMKS tersebut akan dibawa ke Balai Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur, Bekasi, Jawa Barat.

Ketiga PMKS tersebut yaitu Irmayuda. Tunawisma berusia 46 tahun ini berasal dari Aceh. Dia bekerja sebagai pemulung dengan pendapatan per hari Rp 20-70 ribu. Setiap harinya, ia tidur di gerobak.

"Pak Irmayuda ini sudah siap ke Balai. Beliau hidup sendirian karena seorang duda. Tidurnya di gerobak. Firman sama Rohim juga bersedia dibawa ke Balai untuk mendapatkan pelatihan dan bisa hidup lebih layak," ujarnya.

Firman mengaku sudah satu tahun memulung di Jakarta. Sementara keluarganya tinggal di Bekasi. Remaja 17 tahun ini mengaku siap ke Balai dan ingin melanjutkan pendidikannya, karena ia hanya lulusan SD. Dalam sehari, Firman hanya mendapatkan Rp 20 ribu.

PMKS ketiga yaitu Rohim. Rohim tinggal di rumah kontrakan di Kawasan Buaran, Jakarta Timur sejak tahun 2011. Pria berusia 36 tahun ini merupakan warga asli Jawa Tengah.

"Pak Rohim kerjanya serabutan, kadang kuli bangunan, kadang tukang parkir. Sehari pendapatannya Rp 30 ribu. Sempat jadi sopir Metro Mini dan ojek online. Pak Rohim ini punya mimpi yang besar untuk keluarganya," ungkap Fathonah.

Kastubi dan Faisal

Sementara itu, dua orang tunawisma yang ditemui oleh Mensos Risma pada 4 Januari lalu adalah seorang kakek bernama Kastubi dan anak muda bernama Muhammad Faisal. Kastubi saat ini sedang menjalani isolasi mandiri di Balai Rehsos Bekasi karena hasil rapid test-nya reaktif.

"Pak Kastubi reaktif jadi sekarang lagi isolasi mandiri di Balai. Kalau M. Faisal, sudah mengikuti pelatihan pembuatan kompos dan daur ulang sampah di Balai," ujarnya.

Reporter: Rifa Yusya Adilah/Merdeka.com

Saksikan video pilihan di bawah ini: