Ini Penyebab Banyaknya Pembuatan Undang-undang yang Keliru

Laporan Wartawan Tribunnews, Eri Komar Sinaga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mahkamah Konstitusi (MK) mencatat bahwa permohonan pengujian undang-undang yang dikabulkan meningkat 31 persen.

Itu artinya kekeliruan dalam membuat Undang-undang meningkat juga sebesar angka di atas.

Ketua MK, Mahfud MD tidak menampik adanya transaksi-transaksi politik mengapa badan legislasi bisa keliru dalam mengesahkan Undang-undang.

"Unsur-unsur itu selalu ada ya. Hanya saja unsur pertama itu tukar menukar apa itu kepentingan politik diantara pembuat UU sendiri pemerintah dan fraksi-fraksi di DPR. Misalnya soal verifikasi partai politik itu kan jelas karena political transaksial," jelas Mahfud kepada wartawan termasuk Tribunnews.com, di kantornya, Selasa (2/1/2012).

Selain transaksi politik, Mahfud mengatakan jumlah UU yang dibatalkan tersebut lantaran kurang profesionalnya pembuat undang-undang.

Dalam buku laporan MK misalnya menyebut ketentuan lebih lanjut diatur dalam pasal 80 padahal yang dimaksud pasal 83 sehingga pasal itu menjadi tidak bisa dikerjakan dan kita batalkan.

Faktor ketiga, lanjut Mahfud, adalah perubahan situasi sehingga memerlukan penafsiran baru. Misalnya dibentuknya UU migas (minyak dan gas) dengan BP Migas untuk menghentikan korupsi di Pertamina.

"Nah ternyata setelah ada BP Migas tidak menjadi lebih baik sehingga perlu penafsiran ulang yang sesuai dengan keadaan," terang pria asal Madura, Jawa Timur itu.

Dari ketiga faktor tersebut, Mahfud mengaku belum membuat persentasi faktor mana yang menyebabkan MK mengabulkan permohonan uji materi yang naik 31 persen.

"Kita belum presentase mana yang terbesar. Tapi alasan-alasan itu selalu muncul," pungkasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.