Ini Penyebab KRI Nanggala Pecah Menjadi 3 Bagian di Dasar Laut Bali

·Bacaan 2 menit

VIVA – Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksda TNI Iwan Isnurwanto menjelaskan, tim operasi pencarian KRI Nanggala 402 dari TNI Angkatan Laut yang dibantu oleh tiga kapal Angkatan Laut Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau China sudah berhasil menemukan tiga potongan besar bagian dari kapal selam KRI Nanggala 402 di dasar laut perairan utara Pulau Bali dengan kedalaman 839 meter.

Menurut Pangkoarmada II, tiga potongan besar KRI Nanggala yang berhasil ditemukan oleh kapal Angkatan Laut Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Tan Suo Er Hao-2 itu terdiri dari Haluan (Bow Section), Anjungan (Sail Section) dan Buritan (Stern Section). Ketiga potong bagian besar itu pun berada terpisah dengan jarak antara 40 sampai 100 meter.

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Denpasar, Bali pada hari Selasa, 18 Mei 2021 kemarin, Pangkoarmada II yang juga pernah menjabat sebagai Komandan kapal selam KRI Nanggala 402 mengaku masih belum mengetahui secara pasti penyebab kapal selam KRI Nanggala 402 hancur hingga terpecah menjadi tiga bagian itu. Terlebih lagi, satu bagian besar badan kapal yaitu presure hall yang hingga saat ini masih belum diketemukan keberadaannya.

Mantan Danseskoal itu menjabarkan, kondisi kapal selam KRI Nanggala 402 bisa hancur terpecah menjadi tiga bagian seperti itu kemungkinan besar karena deformasi atau perubahan bentuk yang diakibatkan kapal terjatuh hingga melewati batas kemampuan kapal menyelam.

Lebih jauh dia katakan, kapal selam KRI Nanggala 402 memiliki kemampuan maksimal menyelam di kedalaman 500 meter.

"Bahwa kapal selam di seluruh dunia maksimum 500 meter untuk posisi yang tidak diijinkan lagi. Jadi kalau posisinya lebih dari 500 meter maka dia akan mengalami Deformasi. Deformasi itu perubahan bentuk pada suatu benda akibat tekanan," kata Pangkoarmada II Laksda TNI Iwan Isnurwanto sambil memegang botol air mineral untuk menggambarkan tekanan yang dapat terjadi pada kapal selam KRI Nanggala.

Penyebab lainnya, lanjut Pangkoarmada II, kapal selam kemungkinan besar jatuh dan tenggelam dengan kecepatan yang sangat cepat hingga kedalaman 839 meter. Sehingga, selain deformasi, benturan kapal yang jatuh sangat cepat akibat blackout menjadi penyebab kuat kapal pecah di dasar laut.

"Mengapa terjadi pecah? Ingat, berat kapal ini 1300 ton, kalau diisi penuh dengan air, dan lain-lain itu kurang lebih 1450 ton. Ditambah lagi dengan kecepatan ketika kapal blackout yang tadi saya sampaikan bisa 10 meter perdetik. Setelah 500 meter dia akan mengalami deformasi perubahan bentuk. Bayangkan, dengan kecepatan yang sangat cepat dan perubahan bentuk karena deformasi dia menghujam ke bawah. Gak usah jauh-jauh, gelas ini kalau jatuh ke bawah dia pasti akan pecah," katanya.

"Nah, ini terjadi pada kapal kita. Dengan kecepatan yang tinggi, deformasi, kena atau terjatuh ke dasar laut, maka terjadilah pecah-pecah seperti itu," tambahnya

Baca: Kapal Angkatan Laut China Berhasil Angkat Serpihan KRI Nanggala 402