Ini Penyebab Perampokan Uang Nasabah dan SPBU Marak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA--Mengawali tahun 2013, aksi perampokan spesialis nasabah bank maupun uang hasil penjualan SPBU mewarnai aksi kejahatan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Tidak dipungkiri, para pelaku tersebut biasanya berkomplotan berjumlah empat sampai enam orang dan melengkapi diri mereka dengan senpi maupun sajam. Mereka juga tak segan melepaskan tembakan maupun melukai para korbannya untuk memuluskan aksinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan ada beberapa faktor penyebab perampokan nasabah bank dan SPBU marak terjadi. Diantaranya masih ada pelaku kejahatan, nasabah yang kurang waspada dan tidak tahu jika sedang diawasi menjadi target pelaku. Selain itu, kepolsian yang harus lebih giat berpatroli.

"Kenapa masih ada rampok ya memang karena masih ada pelaku kejahatan. Kepolisian sudah berupaya penindak dan menungkap kasus. Setelah pelaku di penjara, namun masih ada saja generasi baru," ucap Rikwanto.

Kemudian dari sisi nasabah, banyak nasabah yang tidak waspada, lengah dan tidak merasa gerak-geriknya diawasi dan dipelajari oleh para pelaku kejahatan. Adanya pelayanan kepolisian secara gratis dengan mengawal penyetoran maupun pengambilan uang kurang dimanfaatkan oleh para nasabah maupun karyawan SPBU.

Sementara itu, dari pihak kepolisian menurut Rikwanto harus lebih giat berpatroli di wilayah masing-masing dan patroli harus disesuaikan dengan arah dan waktunya.

Menelisik mengenai sistem keamanan bank, Rikwanto mengatakan perampokan nasabah maupun uang hasil penjualan SPBU kerap terjadi di luar bank, dan sangat kecil kemungkinan perampokan terjadi di dalam bank, di halaman bank bahkan perampokan terhadap bank.

Modus yang dilakukan para pelaku spesialis perampokan nasabah ialah dengan lebih dahulu mengamati korbannya, mencari kelengahan, membuntuti korban menggunakan sepeda motor dan ditempat yang dirasa sepi barulah pelaku beraksi mengamcam korban, merapas uang dan melukai korban lalu kabur menghilangkan jejak.

Pihak kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya, Polres maupun Polsek terus berupaya mengimbau dan mensosialisasikan agar masyarakat yang hendak mengambil uang maupun menyetorkan uang, selalu meminta pengawalan pada kepolisian setempat.

"Kami sudah sering kali imbau sebagai bentuk pencegahan, kepada masyarakat yang ingin setor atau mengambil uang ke bank bisa meminta pengawalan kepolisian terdekat," kata Rikwanto.

Menurut Rikwanto pengawalan tersebut tak hanya memberikan efek pencegahan, juga memberikan efek perlawanan jika perampok beraksi. Rikwanto juga mengaku tidak ada pungutan apa pun yang diminta terkait pengawalan ini.

Lebih lanjut, diutarakan Rikwanto selama ini para nasabah bank selalu merasa aman-aman saja setiap kali transaksi di bank. Dan sering kali mereka tidak sadar sedang dipantau dan menjadi sasaran para pelaku kejahatan.

"Selama ini para pelaku perampokan sudah memata-matai calon korbannya sejak berada di bank. Mereka akan memilih calon korban yang minim tingkat risikonya untuk kemudian menjadi target perampokan. Dan masyarakat tidak sadar dimata-matai," terang Rikwanto.

Rikwanto juga menambahkan selama ini memang ada sebagian masyarakat yang meminta pengawalan pada kepolisian. Namun jumlahnya masih sangat minim. Untuk untuk demi mencegah terjadinya tindak kejahatan, pihaknya terus mengimbau masyarakat untuk meminta pengawalan.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.