Ini Prediksi Kapan Matahari dan Bumi Akan Mati

Merdeka.com - Merdeka.com - Matahari bukan hanya sekedar bintang yang menerangi Bumi, melainkan Matahari menjadi bagian terpenting atas seluruh kehidupan di Bumi.

Namun pancaran sinar Matahari yang memberi kehidupan itu tidak akan bertahan selamanya. Karena itu di saat Matahari mati, kehidupan Bumi pun juga akan ikut mati.

Dalam penelitian yang dipublikasi pada 2018 lalu, Matahari dan Bumi diprediksi akan mati sekitar 10 miliar tahun dari sekarang. Karena hanya prediksi, para ilmuwan tidak dapat mengetahui pasti bagaimana peristiwa itu dapat terjadi.

Umat manusia masa itu pun harus mengalami peristiwa kepunahan massal itu.

Meski tidak mengetahui persis, namun para ilmuwan dapat mengetahui apa yang terjadi pada Matahari dan Bumi melalui observasi atas bintang dan planet lain. Observasi ini pun memberikan gambaran kepada para ilmuwan ketika Matahari telah mencapai akhir kehidupannya.

Penelitian yang dipublikasi dalam Jurnal Nature Astronomy itu menjelaskan Matahari dan Bumi akan mati bersama ketika Matahari meledak sehingga meninggalkan nebula planeter (emisi nebula yang dikeluarkan bintang dalam siklus akhir hidup). Demikian dikutip dari laman BGR, Senin (21/11).

Ini bukanlah satu-satunya penelitian memprediksi apa yang akan terjadi pada Matahari dan Bumi. Bahkan terdapat penelitian lain yang menyatakan kematian Matahari akan terjadi bertriliun-triliun tahun dari sekarang.

Namun banyak penelitian memprediksi lima miliar tahun ke depan, komposisi hidrogen Matahari akan habis. Matahari pun akan menjadi bintang merah besar (red giant). Ketika masuk ke fase itu, Matahari dapat dinyatakan sudah mati.

Kehangatan pun sudah tidak dapat diproduksi Matahari lagi.

Mulai dari fase itu, inti Matahari tidak akan stabil lagi. Matahari pun akan meluas hingga melahap Planet Merkurius, Venus, dan Bumi. Medan magnet Bumi pun akan hancur karena dilahap Matahari. Atmosfer Bumi pun hilang dan Bumi akhirnya lenyap.

Meski sains memprediksi kematian Matahari dan Bumi masih jauh, namun bukan berarti penduduk Bumi tidak bertanggung jawab atas kelestarian Bumi. Kini penduduk Bumi harus mengatasi masalah perubahan iklim yang sudah mengancam kehidupan Bumi.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]