Ini Sasaran Pembangunan Pemerintah di 2022

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Jokowi telah menetapkan sasaran pembangunan dalam Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2021. RKP 2021 sendiri mengangkat tema besar pemulihan ekonomi dan reformasi struktural.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Suharso Monoarfa menyebut, sasaran pembangunan dalam RKP 2022 terdiri dari beberapa indikator utama. Pertama pertumbuhan ekonomi Indonesia dipatok berada antara 5,2 persen sampai 5,8 persen. Kemudian tingkat pengangguran terbuka ditarget capai 5,5 persen sampai 6,2 persen, dan tingkat kemiskinan berada di 8,5 hingga 9 persen,

Selain itu, pemerintah juga menargetkan pada 2022 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bisa berada di 73,44 hingga 73,48, penurunan emisi gas rumah kaca 26,8 sampai 27,1 dan rasio gini 0,376 terhadap 0,378.

"Selain itu RKP Tahun 2022 juga memberikan penekanan untuk pencapaian target nilai tukar petani dan nilai tukar nelayan," katanya dalam Peresmian Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2021, Selasa (4/5/2021).

Dia menambahkan, untuk mewujudkan sasaran pembangunan RKP tersebut maka perlu didukung oleh beberapa prioirtas nasional. Diantaranya pemulihan ekonomi didukung oleh berjalannya reformasi struktural yang meliputi reformasi sistem kesehatan nasional.

Selain itu, reformasi sistem perlindungan sosial serta reformasi pendidikan dan keterampilan pemulihan ekonomi harus bisa dilakukan melalui dua strategi utama yaitu pemulihan daya beli dan usaha serta diversifikasi ekonomi.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I-2021 Masih Negatif?

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 besok, Rabu (5/5). Beberapa pihak dan pemerintah pun memperkirakan ekonomi domestik masih akan kontraksi pada periode Januari-Maret 2021.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan, ekonomi kuartal I-2021 masih akam tumbuh negatif. Namun kuartal II-2021 ekonomi Indonesia baru akan menunjukan pemulihannya atau berada di laju positif.

"Pada kuartal I-2021 diperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada kontraksi pada sekitar kisaran minus 0,6 hingga 0,9 persen ironi," ujarnya dalam Peresmian Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2021, Selasa (4/5/2021).

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 bakal berada di dalam range antara minus 1 persen hingga minus 0,1 persen. Proyeksi ini lebih baik jika dibandingkan posisi pertumbuhan sepanjang 2020 yang minus 2,07 persen.

"Kita berharap sih sebetulnya bisa mencapai zona netral, tapi kita masih mendekati minus 0,1 persen," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita, Edisi Maret, Selasa (23/3).

Bendahara Negara itu menyampaikan, proyeksi pertumbuhan ekonomi itu didasari dari kegiatan ekonomi di Indonesia yang sudah mulai menunjukkan adanya pemulihan. Hal ini seiring jumlah kasus Covid-19 menurun ke level 5.000 dibandingkan sebelumnya mencapai 12 ribu.

Dia mencontohkan beberapa aktivitas di lokasi perdagangan bahan pokok dan sektor farmasi sudah mengalami pemulihan pada Maret 2021. Bahkan aktivitas perbelanjaan ritel dan transportasi juga menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.

Sementara, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran minus 1 sampai 0,5 persen di kuartal I-2021. Proyeksi ini tidak begitu jauh dari yang dilakukan pemerintah yakni dalam range antara minus 1 persen hingga minus 0,1 persen.

"Kita proyeksikan kuartal I masih negatif tapi lebih tipis minus 1 sampai 0,5 persen di kuartal I," jelasnya dalam diskusi Mendobrak Inersia Pemulihan Ekonomi, Selasa (27/4).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: