Ini Sejumlah Fakta Usai Gempa yang Terjadi di Turki-Yunani

Dusep Malik, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Provinsi Izmir, Turki, diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,0, Jumat, 30 Oktober 2020. Gempa yang berpusat di Laut Aegean itu terasa hingga ibu kota Yunani, Athena dan Istanbul, salah satu kota terbesar di Turki.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa ini terjadi pada siang hari pada pukul 13.51 waktu setempat. Guncangan gempa ini dirasakan dalam wilayah yang luas seperti di Turki, Yunani, Bulgaria dan Makedonia Utara.

"Gempa ini menimbulkan korban jiwa puluhan orang meninggal akibat terjadinya kerusakan pada banyak bangunan rumah, bahkan gedung-gedung bertingkat di wilayah Izmir Turki juga mengalami kerusakan dan bahkan roboh. Episenter gempa ini terletak di Laut Aegean, tepatnya berada pada jarak 17 kilometer dari pesisir barat Turki," kata Daryono dalam keterangannya Sabtu, 31 Oktober 2020.

Menurut Daryono, mekanisme sumber gempa ini berupa patahan atau sesar dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). Gempa ini dipicu oleh adanya aktivitas Sesar Sisam (Sisam Fault), sebuah sesar aktif dengan mekanisme normal fault dengan panjang jalur sesar sekitar 30 km.

"Hingga saat ini sudah terjadi lebih dari 100 aktivitas gempa susulan (aftershocks) sejak terjadinya gempa utama (mainshock) dengan magnitudo terbesar 5,1. Sesar Sisam dekat Pulau Samos ini 'pecah' dekat Menderes Graben, wilayah dengan sejarah panjang gempa dengan sesar turun (normal fault)," ujarnya

Karena mekanisme patahannya yang bergerak turun dan hiposenter gempanya sangat dangkal hanya sekitar 6 km maka wajar jika gempa ini memicu terjadinya tsunami. Kejadian tsunami akibat gempa ini didokumentasikan dengan baik oleh banyak alat pengukur pasang surut dan saksi mata di beberapa pulau di Yunani dan pantai di Turki.

"Tsunami lokal tampak tercatat di stasiun-stasiun tide gauge seperti stasiun Syros ±8 cm, Kos ±7 cm, Plomari ±5 cm dan Kos Marina ±4 cm. Sayangnya pantai terdekat pusat gempa tidak ditemukan catatan tide gauge, padahal tsunami ini juga menimbulkan kerusakan ringan di beberapa wilayah pantai Yunani dan Turki," ujarnya.

Menurut Daryono, tsunami kecil ini terjadi dan melanda daratan akibat kondisi topografi lokal pantai yang landai di dekat garis pantai sehingga mendukung terjadinya genangan di daratan. Hal ini berkaitan dengan morfodinamika pantai dan amplitudo pasang surut.

Selain itu, wilayah Laut Aegean secara historis adalah kawasan rawan gempa dan tsunami, dengan peristiwa tsunami terakhir adalah tsunami merusak di Bodrum, Turki, akibat gempa berkekuatan 6,6 pada 2017 lalu.

Kerusakan akibat gempa ini sebagian besar terjadi pada kawasan permukiman yang terletak pada tanah lunak seperti di pesisir pantai dan cekungan dengan dataran alluvial yang lunak

Pria yang juga menjabat Wakil Presiden Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) menambahkan, sejarah gempa mencatat bahwa di sekitar Sesar Sisam ini sudah beberapa kali terjadi gempa kuat pada masa lalu seperti gempa tahun 1904 berkekuatan 6,2 dan gempa pada tahun 1992 berkekuatan 6,0.

"Gempa ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua yang tinggal di wilayah Indonesia dengan kondisi seismik aktif dan memiliki banyak jalur sesar aktif di dasar laut, sehingga kewaspadaan terhadap gempa dan tsunami perlu terus ditingkatkan dengan memperkuat upaya mitigasinya baik mitigasi struktural dan non struktural," ujar Daryono.

Baca juga: KBRI Ankara Pastikan Tak Ada Korban WNI dalam Gempa Turki