Ini Solusi Bagi Anak dan Orangtua yang Terdampak Pandemi

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Hampir sepertiga dari populasi dunia merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Di berbagai belahan dunia, jumlah anak dan populasi muda mencapai 50 persen. Oleh karena itu, setiap jenis bisnis tidak dapat dihindari untuk berinteraksi dan berada dalam lingkungan kehidupan anak, baik secara langsung maupun tidak.

Chief of Business Development Save the Children, Rizal Algamar, mengatakan anak merupakan masa depan bangsa dan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru, yang kelak menjadi penerus cita-cita bangsa. Anak memiliki peran yang sangat strategis dalam Pembangunan Nasional, maka tentunya diharapkan menjadi manusia yang berkualitas.

"Karena dampak COVID-19 ini, anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan para pekerja sedang menghadapi masalah ekonomi. Hal ini akan mengarah kepada meningkatnya pekerja anak atau usia muda," ujarnya saat webinar yang diselenggarakan Save The Children, tentang Family-Friendly Workplaces: A Stronger Business for Companies, A Brighter Future for Children, Jumat 13 November 2020.

Menurut Rizal, seharusnya anak-anak dapat bermain, berkreativitas, memperoleh edukasi, kesehatan, dan kesejahteraan, tanpa merasa khawatir jauh dari orangtua, dalam mendukung tumbuh kembang anak itu sendiri.

"Sebaliknya, para orangtua tetap dapat bekerja dengan tenang tanpa perlu khawatir untuk kehilangan waktu bersama anaknya dan tentunya kondisi ini juga dapat mendukung proses tumbuh kembang anak dengan baik," tambah dia.

Berdasarkan hasil polling yang diadakan oleh The Center for Child Rights and Corporate Social Responsibility (CCR CSR), terkait tantangan terbesar bagi pekerja dengan low-income di masa pandemi menunjukkan, 92 persen adalah masalah ekonomi.

Executive Director CCR CSR Asia, Inez Kaempfer, mengungkap berbagai tantangan keluarga di masa pandemi, di antaranya risiko putus sekolah, kesehatan, keamanan, meningkatnya tingkat stres dan eksploitasi pekerja.

"Selain itu, pada masa pandemi ini juga meningkatkan risiko para pekerja usia dini khususnya anak-anak, karena adanya tekanan finansial, kerja serabutan, lingkungan kerja yang tidak baik, dan banyaknya pekerja yang dijadikan pekerja harian. Para orangtua yang terpaksa membawa anak ke tempat kerja, serta kekurangan pekerja," kata dia.

Inez menambahkan, melalui polling lainnya terkait tanggapan tentang tempat kerja yang ramah keluarga, 88 persen responden memilih menginginkan untuk memiliki waktu yang seimbang antara bekerja dan keluarga.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa 'tempat kerja ramah keluarga' adalah tempat yang memiliki kesimbangan dari waktu, fasilitas dan finansial.

"Melalui ‘Tempat Kerja Ramah Keluarga’ akan lebih menguntungkan, karena 92 persen responden mengungkapkan bahwa para pekerja dapat memiliki kemampuan lebih banyak, 87 persen mendapatkan harapan kerja yang lebih baik, dan 89 persen pekerja bersedia kerja lebih lama," tutur Inez Kaempfer.