Ini Tampang Jenderal Perang Amerika yang Disemprot Danjen Kopassus

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebagian besar anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tentu akan selalu mengingat sosok mendiang Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo. Tak hanya dekat dengan anak buah, Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-27 ini juga membumi dan murah senyum semasa hidupnya.

Wajar saja, banyak prajurit TNI Angkatan Darat umumnya dan anggota Kopassus khususnya, yang sangat terpukul saat mengetahui Pramono wafat. Ya, sudah hampir setahun jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1980 ini pergi untuk selamanya.

Saat menduduki kursi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Pramono pernah mati-matian membela anak buahnya.

Pria yang juga merupakan adik ipar Presiden RI ke-6, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini bahkan harus memberi ancaman kepada perwira tinggi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (US Armed Forces). Kok bisa? Bagaimana bisa?

Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "Jejak Langkah Seorang Prajurit Komando", Pramono pernah kesal dengan sikap pemerintah Amerika Serikat (AS) yang melarang anggota Kopassus masuk ke negaranya. Pramono menyebut, hampir seluruh perwira Kopassus mendapat larangan untuk berkunjung ke Negeri Paman Sam.

Namun yang membuat Pramono heran sekaligus geram, para Perwira Pertama (Pama) TNI dari Kopassus juga mendapat perlakukan yang sama.

"Jadi dulu waktu saya menjabat Danjen Kopassus, hampir semua perwira di Kopassus dilarang masuk Amerika Serikat. Saya heran, kok Amerika takut sekali sama Kopassus. Mulai dari isu personel, sampai Kopassus berkunjung pun mereka larang," ujar Pramono.

"Mereka itu prajurit baru, belum pernah dapat penugasan di Timor (Timor-Timur). Mereka baru lulus, kok enggak boleh?" katanya heran.

Sebagai pimpinan tertinggi Kopassus, Pramono pun mengambil sikap setelah mendengar kabar larangan itu. Pada suatu kesempatan, Pramono berjumpa langsung dengan Panglima Komando Indo-Pasifik Angkatan Bersenjata AS (US Indo-Pacific Command), Laksamana Timothy Keating.

Keating pernah berjumpa langsung dengan Pramono, saat mengadakan lawatan ke Indonesia. Saat bertemu Keating, Pramono pun mencoba melakukan diplomasi. Dengan tegas, Pramono memberikan penawaran kepada Keating.

"Saya sampaikan sama dia, kalau perwira muda saya tidak bisa masuk Amerika, saya juga tidak izinkan Panglima Pasifik datang ke Cijantung. Akhirnya, di situ baru dibuka lah hubungan baik," ucap Pramono.

Perlu diketahui, Keating adalah seorang purnawirawan perwira tinggi Angkatan Laut AS (US Navy), yang pernah terjun dalam dua perang besar, Perang Vietnam dan Perang Teluk. Meskipun berasal dari Angkatan Laut AS, namun Keating adalah seorang penerbang pesawat tempur.

Pada 1987, Keating pernah menjadi perwira eksekutif di Skuadron Serang Pesawat Tempur 87 di Kapal Induk USS Theodore Roosevelt (CVN-71). Saat itu juga, Keating jadi andalan Angkatan Laut AS untuk memimpin skuadron jet tempur F/A-18 Hornet.

Kemudian pada Januari 1991, jebolan Akademi Angkatan Laut AS (US Naval Academy) 1971 ini ikut serta dalam Operasi Badai Gurun (Desert Storm Operation) dari kapal induk USS Saratoga (CV-3). Meskipun tak pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Laut AS, sederet jabatan yang pernah diduduki Keating sangat strategis.

Periode 2004 hingga 2007, Keating dipercaya menjadi Panglima Komando Utara Angkatan Bersenjata AS dan Panglima Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara. Setelah itu, Keating dipercaya menjadi Panglima Komando Indo-Pasifik pada 26 Maret 2007 hingga 18 Oktober 2009.