Ini yang Akan Terjadi Jika Seluruh Nyamuk di Muka Bumi Dimusnahkan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington D.C - Bill Gates menyebut nyamuk sebagai "hewan paling mematikan di dunia" karena penyebaran penyakit mematikan yang tak henti-hentinya seperti malaria, yang menyebabkan kematian sekitar 429.000 pada tahun 2015 saja.

Hampir separuh dunia hidup dalam risiko penyakit tersebut, kata Organisasi Kesehatan Dunia, yang membuat perkiraan.

Tergantung di mana Anda tinggal, nyamuk dapat berkisar dari gangguan yang menyebabkan gatal hingga ancaman yang terus-menerus. Itu membuat para ilmuwan bertanya, "Bagaimana jika kita membunuh mereka semua?"

Kami tidak tahu, banyak dari pakar tersebut telah menyimpulkan. Tapi mereka bisa membayangkan.

Berdasarkan USA Today, ada lebih dari 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya sedikit yang memengaruhi kesehatan kita. Anopheles gambiae membawa malaria, misalnya. Aedes aegypti datang ke AS dengan kapal budak, menyebarkan demam kuning seperti yang terlihat tahun lalu, Zika.

Jadi kita tidak perlu menghentikan semua nyamuk untuk mengurangi kematian terkait nyamuk, seperti yang dikatakan Cameron Webb, seorang ahli etimologi di Universitas Sydney, kepada Motherboard tahun lalu. Dan itu mungkin lebih disukai, kata Webb, yang "sedikit ragu" kepunahan penuh mereka bisa memiliki efek tidak langsung.

Rantai Makanan akan tetap Baik-baik Saja

Racun yang menewaskan Kim Jong-nam juga ditemukan pada obat nyamuk. (Ilustrasi: Prevention)
Racun yang menewaskan Kim Jong-nam juga ditemukan pada obat nyamuk. (Ilustrasi: Prevention)

Nyamuk bertindak sebagai sumber makanan utama bagi ikan, burung, kadal, katak, kelelawar, dan hewan lainnya. Namun tidak ada spesies yang hanya bergantung pada mereka, seperti yang ditemukan jurnal Nature pada tahun 2010.

Serangga lain dapat berkembang biak di tempatnya, dan tampaknya sebagian besar spesies akan menemukan alternatif untuk dimakan.

Dan meskipun nyamuk membantu menyerbuki ribuan tanaman, Janet McAllister, ahli entomologi dari Pusat Pengendalian Penyakit, mengatakan kepada Nature bahwa penyerbukan nyamuk tidak penting untuk tanaman yang diandalkan manusia.

Phil Lounibos, ahli entomologi University of Florida, mengatakan bahwa serangga apa pun yang muncul untuk menggantikan nyamuk bisa terbukti "sama, atau lebih, tidak diinginkan dari sudut pandang kesehatan masyarakat," seperti yang dia katakan kepada BBC tahun lalu.

Penulis sains David Quammen menyatakan bahwa nyamuk melindungi hutan hujan tropis tempat mereka berkembang biak, menjauhkan manusia — dan penggundulan hutan.

Pada akhirnya, ketiadaan nyamuk akan menggeser ekosistem kita. Tapi apakah perubahan itu akan drastis atau bertahan lama? Sekali lagi, kami tidak tahu pasti. Ekosistem itu kompleks, dan para ahli tidak setuju.

Ratusan Anak akan Terselamatkan

Ilustrasi Bayi Prematur Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels
Ilustrasi Bayi Prematur Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels

Namun, ada satu perubahan drastis akan kita lihat. Ratusan ribu tidak akan meninggal akibat malaria setiap tahun, yang kebanyakan adalah anak-anak balita. Ditambah pengurangan sekitar 55.000 kematian tahunan yang dapat dikurangi dari demam berdarah atau demam kuning, di mana Aedes aegypti adalah pembawa utamanya.

Korban manusia itu membuat para peneliti merenungkan bagaimana cara membersihkan bumi dari (setidaknya beberapa) nyamuk. Peneliti Inggris mengembangkan nyamuk Aedes aegypti hasil rekayasa genetika yang dapat menghancurkan dirinya sendiri, meskipun prosesnya mahal dan tidak pasti.

"Pemusnahan seluruh spesies secara global, menurut saya, agak dibuat-buat," kata Steven Juliano, seorang ahli ekologi dari Universitas Negeri Illinois, kepada Smithsonian.

Dia menambahkan, "Saya pikir mereka memiliki peluang bagus untuk mengurangi populasi lokal, bahkan mungkin membasmi spesies di suatu tempat."

Reporter: Lianna Leticia

Saksikan Video Berikut Ini: