Ini yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kondisi Pandemi COVID-19 di Dunia

·Bacaan 3 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 telah berlangsung selama 1,5 tahun. Negara-negara di dunia saat ini menghadapi tantangan peningkatan besar kasus baru COVID-19 yang dipicu oleh varian delta COVID-19 yang lebih cepat menyebar.

Sejumlah negara melakukan penguncian dan memperketat pembatasan sosial di negaranya. Namun Inggris malah menghapus pembatasan sosial, meski negara itu mengalami peningkatan kasus COVID-19.

Perdana Menteri, Boris Johnson, mencabut kebijakan lockdown dan menghapus hampir semua aturan pembatasan sosial, Senin 19 Juli 2021. Ini karena negara tersebut sudah memvaksinasi penuh 60 persen orang dewasa, sehingga bisa mendorong dibukanya kembali bisnis.

Kebijakan Perdana Menteri Boris Johnson, mengakhiri setahun lebih pembatasan penguncian COVID-19 di Inggris pada Senin, dijuluki sebagai "Hari Kebebasan".

Mulai Senin tengah malam waktu setempat, undang-undang di Inggris yang mewajibkan masker wajah untuk dikenakan di toko-toko dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya berakhir. Demikian juga batasan kapasitas di bar dan restoran, serta aturan yang membatasi jumlah orang yang boleh bersosialisasi bersama.

Klub-klub malam menyajikan acara musik live pertama yang bebas aturan, pada Senin 19 Juli 2021, sejak pandemi dimulai tahun lalu. Pengunjung menari sepanjang malam dan bergembira setelah Inggris mencabut sebagian besar pembatasan COVID-19 pada tengah malam.

Aturan hukum yang mencakup pemakaian masker dan bekerja dari rumah juga dicabut. Meski begitu sebagian warga London juga mengkhawatirkan gelombang kasus baru COVID-19. Inggris telah melaporkan lebih dari 50.000 kasus per hari di seluruh negeri.

Berikut situasi pandemi COVID-19 di sejumlah negara:

Korea Selatan

Korsel alami wabah COVID-19 terburuk. Militer Korea Selatan telah mencatat klaster terbesar infeksi COVID-19 hingga saat ini di mana lebih dari 80% personel kapal perusak yang sedang bertugas di Teluk Aden dinyatakan positif. Kapal itu meninggalkan Korsel pada Februari untuk misi patroli anti pembajakan.

Mengutip sumber militer, kantor berita Yonhap melaporkan tidak ada personel yang mengalami sakit parah, meskipun satu orang telah menunjukkan kondisi yang memerlukan pengamatan ketat.

Kepala Staf Gabungan mengatakan pada Senin bahwa hanya 50 dari 301 personel kapal yang hasil tesnya negatif ketika wabah pertama kali dilaporkan pada 15 Juli. Pihak berwenang telah memulai operasi untuk mengangkut mereka pulang, sementara tim pengganti akan membawa kapal kembali ke Korsel.

Australia

Pihak berwenang Australia pada Senin mengatakan negara bagian Victoria akan memperpanjang penguncian COVID-19 setelah Selasa meskipun ada sedikit penurunan infeksi baru ketika dua kota terbesar di negara itu berjuang menghentikan penyebaran varian Delta yang sangat menular.

Pemimpin negara bagian Victoria Daniel Andrews mengatakan aturan penguncian tidak akan dicabut karena kasus masih terdeteksi di masyarakat. Dia menjanjikan rincian lebih lanjut pada Selasa.

Australia dapat menuju ke siklus baru penguncian tutup-dan-buka hingga akhir tahun sampai mencapai cakupan vaksinasi yang tinggi, kata para ahli.

Singapura

Kementerian kesehatan Singapura pada Minggu "sangat" menyarankan individu yang tidak divaksin, terutama orang tua, untuk tinggal di rumah sesering mungkin selama beberapa minggu ke depan, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko penyebaran COVID-19 di komunitas.

Negara itu melaporkan 88 kasus baru virus corona yang ditularkan secara lokal pada Minggu, angka harian tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Rekor itu dipicu oleh meningkatnya klaster penularan di bar karaoke dan pelabuhan perikanan.

Sebagai tindakan pencegahan, pihak berwenang pada Minggu menutup kios ikan segar dan makanan laut di pasar-pasar di seluruh negara-kota itu karena semua penjual ikan dites COVID-19. Ketika tingkat vaksinasi Singapura meningkat dan bersiap untuk hidup dengan virus, pemerintah mengatakan akan mencermati jumlah kasus dengan tingkat keparahan penyakit untuk memutuskan tindakan COVID-19 lebih lanjut.

Myanmar

Penanganan COVID-19 berlangsung diam-diam di Myanmar. Didanai para donor di media sosial, upaya kalangan akar rumput tengah tumbuh di Myanmar untuk memerangi COVID-19 dengan melewati pihak berwenang dan menggemakan cara rakyat Myanmar menghadapi krisis selama beberapa dekade pemerintahan militer sebelumnya.

Sistem kesehatan terlemah di kawasan itu terbengkalai setelah kudeta karena banyak petugas kesehatan bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil untuk menentang junta. Vaksinasi, pengujian, dan tindakan pencegahan COVID-19 semuanya terhenti.

"Sekarang kami menderita gelombang ketiga COVID. Kami tidak tahu akan ada berapa gelombang lagi," kata salah satu pengurus gerakan itu kepada Reuters melalui telepon, yang menolak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan.

"Kami sekarang harus bertindak seolah-olah kami tidak memiliki pemerintahan." (Ant/Antara)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel