Inilah Alasan Yamaha soal Pelanggaran Regulasi Mesin

Lewis Duncan
·Bacaan 3 menit

Yamaha sudah dinyatakan bersalah memakai katup (valve) yang tidak dihomologasi di GP Spanyol, lomba pembuka Kejuaraan Dunia MotoGP 2020, Juli lalu. Hasilnya, Yamaha kehilangan poin di klasemen konstruktor dan tim karena menggunakan komponen tersebut tanpa persetujuan dari Asosiasi Pabrikan (MSMA).

Federasi Balap Motor Internasional (FIM) memfokuskan investigasinya pada penggunaan katup yang tidak dimasukkan Yamaha ke dalam daftar untuk dihomologasi saat pramusim lalu.

Belakangan, Yamaha mengeluarkan pernyataan resmi mengapa mereka dinilai melanggar regulasi menyusul insiden hancurnya dua unit mesin YZR-M1 di Jerez lalu.

Yamaha mengungkapkan, problem muncul saat mereka memesan komponen untuk MotoGP 2020. Ternyata, pemasok katup yang biasa mereka pesan sudah tidak lagi membuat komponen tersebut.

Yamaha pun mencari suplier baru yang memiliki desain identik dengan pesanan mereka Yamaha yakin, desain tersebut tidak akan melanggar regulasi mesin di MotoGP.

Belakangan terungkap, kedelapan mesin Yamaha yang ada di GP Spanyol dinilai ilegal. Pasalnya, mesin-mesin itu menggunakan katup dari pemasok baru dan sama sekali belum dihomologasi seperti yang dilakukan terhadap suplier lama.

Sebelumnya, Yamaha bermaksud memakai setok katup dari pemasok lama plus valve dari suplier baru, untuk seluruh lomba musim ini. Namun, rencana itu gagal total.

Pasalnya, mesin dengan katup non-homologasi juga bermasalah. Dari situlah Yamaha mengajukan proposal kepada MSMA agar diizinkan membuka segel agar bisa menggantinya dengan katup lama yang sudah dihomologasi.

Tetapi, proposal ke MSMA itu tidak jadi dikirim karena Yamaha “sulit untuk membuktikan” telah terjadi kesalahan dalam proses produksi katup dari suplier.

Baca Juga:

Kembali ke Trek, Rossi Keluhkan Kondisi Motor Marquez Tuding Pembalap Yamaha Sadar Ada Kecurangan

Sebaliknya, pabrikan asal Jepang itu malah mengungkapkan bila mereka telah memakai katup dari pemasok lain. Ujungnya, MSMA pun mengirimkan laporan ke FIM yang berbuntut sanksi pengurangan poin Yamaha di klasemen konstruktor dan tim.

“Pada awal tahun ini kami memakai katup yang sudah dihomologasi, untuk mesin contoh, sekaligus kami pakai jika ada protes dari suplier lama,” tutur Lin Jarvis, Prinsipal Tim Monster Yamaha MotoGP, skuad pabrikan Yamaha.

Jarvis mengakui, semua delapan mesin Yamaha YZR-M1 pada lomba pertama di Jerez menggunakan katup dari pemasok baru. Namun, Jarvis mengakui hal itu dilakukan bukan untuk meningkatkan performa mesin.

“Kami berencana menghabiskan setok katup dari pemasok lama lalu memakai valve dari suplier baru di paruh kedua musim,” kata Jarvis.

“Setelah kami selidiki, kerusakan mesin datang dari katup-katup ini. Kami menemukan bila katup-katup di delapan mesin pertama kami itu memiliki masalah.”

Jarvis pun sekali lagi menegaskan pihaknya tidak pernah mengganti desain atau ukuran katup untuk meningkatkan performa. Jarvis juga menyebut sudah tidak lagi menggunakan kedelapan mesin di Jerez tersebut.

Jarvis mengungkapkan, Yamaha menggunakan teknisi dan analis independen untuk urusan katup. Namun, saat desain dan performa katup sudah sama dengan standar untuk homologasi, Yamaha tidak bisa menyebut katup ini 100 persen identik hanya karena material yang serupa.

Efek kasus katup ilegal ini sejatinya sudah terlihat. Sejak lomba di Jerez, semua empat pembalap Yamaha sudah kehilangan dua mesin dari maksimal lima yang boleh dipakai. Maverick Vinales bahkan sudah “menghancurkan” tiga mesin karena masalah mekanis.

Hasilnya, Yamaha terpaksa menurunkan mesin keenam untuk Vinales yang berujung pada hukuman start dari pit lane di MotoGP Eropa, Minggu (8/11/2020), sekaligus menghancurkan harapannya untuk merebut gelar juara dunia.

Para pembalap Yamaha memang tidak disanksi pengurangan poin meskipun banyak suara mempertanyakan keputusan FIM ini. Tapi, Jarvis sekali lagi menegaskan bila para pembalap tidak bersalah dalam kasus ini.