Inilah Faktor Hamilton Mampu Kunci Gelar Ketujuh di Istanbul

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 2 menit

Hamilton memulai lomba GP Turki dengan hanya start dari grid keenam di Sirkuit Istanbul Park, Minggu (15/11/2020). Namun, turun di lintasan basah membuat pembalap Tim Mercedes-AMG Petronas tersebut mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Di GP Turki, Hamilton benar-benar mampu memaksimalkan skill, teknik, dan kepandaiannya untuk segera memastikan dirinya sejajar dengan Michael Schumacher sebagai pengoleksi gelar terbanyak di F1, tujuh.

Seusai lomba, Hamilton mengaku impian yang dibarengi keyakinan berperan besar dalam upayanya merebut kemenangan ke-94 dalam kariernya di F1.

Start dari posisi keenam, Hamilton langsung melesat ke peringkat ketiga. Pembalap asal Inggris yang juga dikenal piawai di lintasan basah itu sempat terpeleset dan kembali ke posisi startnya, enam.

Semua berubah saat Hamilton mengganti ban basah/ekstrem (wet) dengan ban intermediate di lap kedelapan. Hamilton mulai menunjukkan keahliannya dalam strategi balap dengan mengatur kecepatan, memperhitungkan tyre management dan melihat peluang untuk melewati lawan.

Baca Juga:

Hasil F1 GP Turki: Hamilton Pastikan Gelar Ketujuh Update Klasemen F1 2020: Hamilton Masih Bisa Samai Rekor Schumi Lainnya Trauma GP Cina 2007, Hamilton Tolak Pitstop Tambahan

Sampai seperempat lomba – GP Turki berlangsung 58 lap (309,396 km) – Hamilton masih berada di posisi kelima. Sampai lap 30, Mercedes F1 W11 milik Hamilton masih tertahan di belakang Ferrari SF1000 milik Sebastian Vettel.

Lalu, Vettel masuk pit dan Alex Albon (Red Bull Racing) selip hingga Hamilton bisa naik di posisi ketiga di belakang duet Tim BWT Racing Point, Lance Stroll dan Sergio Perez.

Barulah pada lap 40, Hamilton mampu merebut posisi terdepan dari tangan Perez. Selanjutnya, Hamilton kembali menunjukkan kelasnya sebagai The Rainmaster.

Lewat perhitungan sangat matang, Hamilton tidak lagi mengganti ban dan memakai ban intermediate selama 50 lap! Terpanjang di antara semua pembalap yang turun.

“Setelah mengganti ban (wet ke intermediate), saya sempat frustrasi karena tidak mampu melewati Seb. Setelah itu, saya melihat Albon selip,” ucap Hamilton.

“Saya pun berpikir: ‘Yesus ada di balapan ini.’ Saya sebelumnya merasa podium sudah di luar jangkauan. Saat itu, saya berusaha tenang seraya yakin mampu menambah kecepatan di beberapa area. Itulah yang terjadi di Istanbul ini.”

Setelah melewati jumlah kemenangan Michael Schumacher (91), dengan gelar F1 2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2109, dan 2020, Hamilton kini menyamai torehan titel milik mantan pembalap asal Jerman tersebut.

Banyak yang lantas membandingkan siapa yang terhebat di antara Schumi dan Hamilton. Namun, bagi Hamilton, memecahkan atau menyamai rekor di F1 jelas sangat berarti.

“Tujuh gelar (juara dunia F1) sungguh tidak pernah terbayangkan bagi saya sebelumnya. Bekerja bersama tim yang berisi orang-orang hebat, Anda bisa berkomunikasi, saling mendengarkan yang berujung pada kesamaan tujuan. Itu menjadi pengalaman yang sangat penting,” ucap Hamilton.

Pembalap 35 tahun itu menjelaskan, apa yang sudah dilakukannya bersama Tim Mercedes bisa ditiru para pembalap muda.

“Jangan dengarkan orang-orang yang bilang Anda tidak akan mampu mencapai sesuatu. Mimpikanlah sesuatu yang mustahil namun Anda harus bekerja keras mengejarnya dan jangan pernah menyerah. Jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri.”