Inilah Penghambat Laju Harga Emas di 2012

  • Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Merdeka.com
    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. utang ini terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 129 miliar serta utang luar negeri swasta sebesar USD 143 miliar. ... …

  • Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    Merdeka.com
    Ini bahayanya jika Indonesia bergantung pada utang Singapura

    MERDEKA.COM. Koalisi Anti Utang (KAU) menyebut ketergantungan Indonesia pada utang asing khususnya pada Singapura berbahaya. Pasalnya, jika terjadi konflik, maka Singapura dapat menghancurkan Indonesia melalui aspek utang.Ketua KAU, Dani Setiawan, menuding Singapura sebetulnya hanya broker atau kepanjangan tangan investor dari negara Eropa. Maka dari itu, mereka memegang kendali supply utang."Dalam skenarionya seperti itu, di mana Singapura selama ini menjadi posisi tuan rumah lembaga investasi …

  • Konsumen Thailand Paling Royal Memberi Tip

    Konsumen Thailand Paling Royal Memberi Tip

    Tempo
    Konsumen Thailand Paling Royal Memberi Tip

    TEMPO.CO , Jakarta - Penelitian MasterCard di 16 negara Asia Pasifik menunjukkan konsumen Thailand paling dermawan memberi uang tip. Thailand pun dinobatkan sebagai "The Nation of Top Tippers 2014", menggantikan Bangladesh. Penelitian dilaksanakan pada Oktober dan November 2013 dengan 7.932 responden berusia 18-64 tahun di 14 negara Asia Pasifik. …

INILAH.COM, Jakarta – Sebagai aset safe haven, emas juga merupakan hard commodity sehingga sensitif terhadap berita makro ekonomi. Inilah faktor yang bisa mengganggu rally emas pada 2012.

Periset dan analis PT Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, selain safe haven, emas juga masuk kategori hard commodity. Menurutnya, emas termasuk dalam 3 produk investasi dunia yang berbau risiko seperti saham dan valuta. Karena itu, dalam kondisi tertentu, emas memberikan keuntungan yang cukup besar tapi risikonya pun besar.

Ia menegaskan, harga emas akan terpengaruh oleh berita-berita fundamental seperti GDP (Gross Domestic Product), inflasi, tingkat pengangguran, indeks kepercayaan konsumen dan rumor pasar. “Faktor-faktor itulah, yang bisa jadi penghambat rally emas pada 2012,” katanya kepada INILAH.COM, baru-baru ini.

Saat ini, lanjutnya, yang bisa menghambat penguatan harga emas adalah krisis ekonomi yang bersifat global. “Meski saat krisis orang lari ke emas sebagai safe haven, tapi perlu diingat, emas juga merupakan produk komoditas,” tandas Daru.

Hanya saja, pengaruh dari sisi ini (emas sebagai produk komoditas) relatif kecil dibandingkan faktor lain. Tapi, secara fundamental, investor dihadapkan pada isu perlambatan ekonomi global yang diekspektasikan bisa mengurangi demand terhadap emas.

Ekspektasi itu muncul, diawali Gross Domestic Product (GDP) China pada kuartal III-2011 yang turun ke 9,1% dari sebelumnya 9,5%. PDB Eropa juga turun jadi 1,4% dari 1,6%. Begitu juga dengan pertumbuhan AS yang turun jadi 2% dari 2,5%.

Kondisi itu, diperparah dengan indeks kepercayaan konsumen dari Jerman yang mewakili Eropa juga turun drastis ke -55,2 dari -48,3. Begitu juga dengan indeks konsumen AS Oktober 2011 yang turun ke 39,8 dari bulan sebelumnya 46,4.

Namun demikian, Daru menyarankan, agar investor tak  perlu khawatir. Pasalnya, dalam sejarah harga emas tidak pernah turun tajam. Penurunan harga, lanjut Daru, hanya merupakan koreksi minor setelah naik signifikan.

Apalagi, kata Daru, dalam sejarahnya, emas hanya mengalami satu kali penurunan di mana harganya lebih rendah dari tahun sebelumnya. Ia memaparkan, pada 1980, harga emas sempat menjulang hingga US$835 per troy ounce dan turun tajam hingga level US$481,50 dalam jangka  2-3 bulan di tahun yang sama.

Lalu, emas masih melanjutkan pelemahan hingga 1982 ke level US$296,75. Sejak 1982, tegas Daru, secara bertahap, emas merambat naik hingga 2008 mencapai US$835. Artinya, emas kembali ke level tersebut dalam 28 tahun sejak 1980. “Jadi, penurunan emas yang tajam hanya terjadi sekali pada 1982 dan tahun-tahun setelahnya terus mengalami kenaikan,” tandas Daru.

Memang, Daru mengakui, pada 2008 emas sempat turun saat lembaga keuangan Lehman Brothers dinyatakan bangkrut. Awal 2007 emas di level US$636,80 naik hingga US$1.030,80 per troy ounce pada 2008.

Lalu, emas mengalami penurunan yang tajam pada tahun yang sama pada Oktober hingga mencapai level US$680,80 per troy ounce. Tapi, angka ini masih lebih tinggi dari harga pembukaan 2007 di level US$636. “Setelah Oktober 2008, emas terus rally hingga mencapai level tertingginya sepanjang sejarah US$1.920 per troy ounce pada September 2011,” imbuhnya. [mdr]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...